Total Tayangan Halaman

Selasa, 28 Desember 2010

Masih Ada Nafas Untukku

Beberapa waktu menyempatkan waktu sejenak untuk menunaikan hak keluarga, sejenak meninggalkan Jogja dengan berbagai amanah dan “kepenatan”, merefresh hati, otak, juga jasad. Tak ada rencana sebelumnya, mendadak saja. Keinginan begitu kuat, hingga akhirnya saya nekat menghubungi beberapa orang untuk meminta ijin rehat sejenak dari berbagai aktifitas dan amanah. Sempat menunggu beberapa saat, namun Alhamdulillah, saya berhasil mengantongi surat ijin tersebut. Setidaknya, saya bisa meninggalkan Jogja dengan perasaan lega.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam, akhirnya sampai rumah kakak. Banyak yang berubah. Empat ponakanku menyambut dengan riang, 3 bulan tidak bertemu, mereka sudah banyak perkembangan. Nayla sudah semakin dewasa, lebih dewasa dari umurnya. Fatih, ternyata belum begitu berubah, seneng banget godain ammahnya, paling doyan nonton film, bahkan detail film sang murabbi dia juga hafal. Qiyya, agak kurusan, tapi masih belum berubah juga, paling doyan makan. Najla, dulu dia agak susah kalau saya ajak, tapi kali ini dia selalu mendekatiku, bobo di sampingku, yang masih terngiang-ngiang, kala dia nyanyi Sepohon Kayu dengan suara yang masih putus nyambung karena memang belum bisa bicara secara sempurna.
Dua malam satu setengah hari di rumah kakak. Lebih banyak merenung dan menangis (sambil melakukan berbagai aktifitas rumah tangga, tentunya menangisnya di kala sepi). Ternyata hati dan pikiranku masih melayang-layang memikirkan semua yang di Jogja, meski jasadku ada di kampong. Bagaimana tidak, di Jogja saudara-saudaraku masih kalang kabut mengurus ummat, sementara saya di kampong berkutat dengan masalah “pribadi”. Betapa sulitnya mengalahkan ego. Perang terus berkecamuk, upaya perdamaian masih terus dan selalu diusahakan. Sigh…
Berbicara dari hati ke hati dengan sang kakak, rasanya sudah lama tidak saya lakukan. Biasanya hanya lewat sms, bahkan akhir-akhir ini hamper tidak pernah, masing-masing sibuk dengan aktifitasnya. Mencoba memahami sang kakak, 4 anak yang masih kecil, dengan segudang aktifitas keummatan lainnya, tanpa khadimat. Tapi sangat salut, karena beliau masih perhatian pada adik satu-satunya yang bandel ini. Setidaknya sedikit lega, saya telah mencurahkan apa yang saya rasakan kepada kakak, dan setidaknya ada sedikit energy baru merasuk.
Sore setelah menyelesaikan beberapa amanah yang harus segera di email ke partner yang ada di Jogja, saya meluncur pulang ke rumah orang tua. Betapa kagetnya mereka, tidak seperti biasanya. Mereka nampak sangat bahagia dengan kejutan kepulangan saya, hingga saya sempat tak bisa membendung air mata. Subhanallah, akhirnya Engkau pertemukan kami ya Rabb, baru 3 bulan tidak bertemu dan tidak bisa mendengar suara orang tua (karena sang orang tua sudah tidak mau memegang hape sendiri), cium tangan, cipika cipiki, hehe…
Sejenak menunaikan perintah ibu, mengantarkan sesuatu ke tetangga depan rumah. Ahaaa… kata mereka, saya makin kurus (padahal sepertinya masih seperti yang dulu, ndut). Malam hari ada acara di rumah, namun badan ini rasanya sudah sangat lemah, tidak ada tenaga. Akhirnya saya terlelap paling awal. Tidak sempat ngobrol banyak dengan orang tua, apalagi pagi-pagi saya harus meluncur kembali ke rumah kakak untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Jogja. Meski sangat singkat, namun perjumpaan dengan orang tua kali ini sangat berkesan, entah karena apa. Mungkin juga didukung kondisi hati dan pikiran yang memang sedang sangat membutuhkan perjumpaan dengan orang tua.
Akhirnya meninggalkan rumah lagi, kali ini tanpa di antar sang ayah, karena saya membawa motor kakak. Sepanjang perjalanan masih melayang-layang, hingga di jalan hamper kecelakaan. Bukan karena saya yang salah, tapi ada pemuda dari belakang yang dengan “sok-sokan” ngebut, nyelip seenaknya senndiri. Astaghfirullah, kaget bukan main, sampai gemeteran. Namun saya tidak berhenti, perjalanan tetap dilanjutkan tapi dengan kecepatan pelan. Kalau biasanya saya bisa sampai 100 km/jam, kali ini 60km/jam saja rasanya sudah sangat cepat. Alhamdulillah ya Allah, Engkau masih memberiku kesempatan untuk bernafas, menyelesaikan misi-misi yang Engkau berikan.
Sampai rumah kakak telat 10 menit, rumah sepi, hanya ada beberapa pak tukang yang sedang bekerja. Sambil menunggu, saya selesaikan beberapa pekerjaan di rumah. Alhamdulillah kakak ipar dating. Pas, selesai semuanya. Saya minta tolong kakak ipar untuk mengantarkan saya ke terminal.
Dalam mobil, ada pembicaraan serius, hingga lagi-lagi hampir tak kuasa membendung air mata. Pesan-pesan luar biasa yang sbenernya selama ini saya sadar akan hal itu, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda, saya merasa ditohok.
Ahhh… selamat tinggal “keterpurukan”, perjuangan harus terus dilakukan. Ikhtiar untuk menuntaskan amanah keluarga harus terus dilakukan, ikhtiar untuk hidup mandiri harus terus dilakukan, bahkan harus lebih keras lagi. Ikhtiar untuk menunaikan amanah ummat harus terus dilakukan.
Baru sepekan saya kembali ke aktifitas semula di jogja, malam sepulang dari rapat tim merapi, sakit kembali menyerang, hampir sepekan saya tidak bisa melakukan apa-apa, berbagai aktifitas saya lakukan di atas pembaringan. Kali ini, di puncak kritis, saya merasa kematian sudah di depan mata. masyaAllah…
Beberapa orang yang saya beritau tentang kondisi saya, sepertinya menganggap sakit ini biasa dan terlalu dibuat-buat. Anak-anak kost lainnya pulang, akhirnya saya hanya bisa pasrah atas kehendakNya, sempat ada keinginan opname saja di RS, karena disana aka nada yang merawat, minimal perawat. Hanya bisa pasrah, tapi masih berharap Allah berbaik hati memberi saya nafas untuk menyelesaikan hutang-hutang terhadap sesama manusia juga kepadaNya. Alhamdulillah, Allah mengirimkan sahabat lama saya, hingga akhirnya saya mengungsi ke rumah beliau, bertemu mama, dan disana ada yang merawat. Syukur tak terhingga atas nikmatNya.
Fabiayyi ‘aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan…

Sabtu, 25 Desember 2010

Mencetak Muslim Motivator Berbasis al-Qur'an (Resensi buku)

 
Siapa yang tidak ingin dirinya selalu berada dalam kondisi on (semangat) pada setiap keadaan? Setiap kita pasti menginginkannya, bukan?! Entah kita itu sebagai karyawan, trainer, pendidik, akademisi, tehnokrat, enterpreneur, dai, ulama, pejabat sampai presiden sekalipun. Pasti semua kita mendambakan apa yang disebut dengan semangat dan motivasi yang terus hidup mengiringi aktifitas sehingga diharapkan segala kerja-kerja kita menjadi produktif, baik dan bermanfaat bagi orang banyak.

Namun, banyak sekali lapisan masyarakat yang salah kaprah dalam mengambil sumber motivasi hidup itu. Akibatnya, rasa semangatnya itu hanya 'anget-anget tahi ayam' belaka. Atau juga tidak sedikit yang menyimpang dari ajaran agama dan norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat. Seperti dorongan uang suap yang merugikan banyak orang dan negara. Itukah yang dinamakan motivasi untuk bisa hidup dan sejahtera?! Sebagai muslim sejati, tentu  jawabannya"Tidak"!

Kalau kita mau mengambil contoh keteladanan, cukuplah generasi terbaik terdahulu umat ini menjadi rujukan. Sebut saja misalnya Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin adil berhati kepedulian terhadap rakyat yang hanya dalam 2 tahun saja mampu meningkatkatkan taraf ekonomi kaum muslim sehingga tidak ada rakyatnya yang mau menerima zakat alias tidak ada yang miskin.
 
Atau sebut juga sosok Abu Bakar as-Shiddiq radiyallahu anhu sebagai sosok pemimpin yang utama setelah para nabi dan rasul. Bahkan, Rasulullah saw menyebut Abu Bakar sebagai orang yang apabila imannya diukur dengan seluruh penduduk bumi, maka keimanan Abu Bakar akan mengunggulinya.
 
Lalu, apa faktor kehebatan keduanya dalam pemimpin?! Tidak lain dan tidak bukan, kesuksesannya menjadi seorang pemimpin umat adalah berkat interaksi yang baik dan berkesinambungan dengan ayat-ayat Allah swt. Dengan al-Qur'an ini. Dari ayat-ayat al-Qur'an keduanya memompa diri dan semangat untuk kemudian direalisasikan dalam bentuk amal dan kerja nyata.
 
Nah, jika kita ingin menjadi sosok ideal dan didamba umat dengan kebaikannya, maka buku ini sangat cocok untuk Anda sekalian.
Tunggu kehadiran buku sederhana ini..
Wallahu a'lam bish-showab.

copast dari sini

Menuju Kematian

Terbaring lemah, di puncak kritis, hingga bayang-bayang malaikat sang pencabut nyawa telah dikirim oleh Allah untuk menjemputku. Ingat belum siap apa-apa, masih banyak hak ummat yang belum tertunaikan, masih banyak salah pada saudara-saudara dimana saya belum meminta maaf, masih banyak hutang-hutang yang belum terbayar, tapi kala itu hanya bisa pasrah. Ya Allah.. sebenarnya hamba tidak kuat menanggung semua azabMu atas semua yang telah kuperbuat di dunia ini.

Antara khouf yang besar, tapi roja'  yang ada jauh lebih  besar. Dan alhamdulillah, ternyata Allah masih memberi saya nafas, hingga masih bisa hidup sampai sekarang. Ingin segera menunaikan semua yang harus ditunaikan. Mempersiapkan dengan baik, bekal menuju kematian.

Bersyukur sekali hari ini saya masih diberi kesempatan untuk berbuat banyak kesempatan untuk beribadah sesuai uswah dan bermu'amalah sesuai syariah. Kesempatan untuk menghindar diri dari api neraka. Bacalah kitab hari ini, timbanglah setiap amal. Bersemangatlah dalam berbuat baik dan bertobatlah dari dosa dan kesalahan. Mohonlah petunjuk kepada Allah agar dimudahkan menelusuri shirathal mustaqin dan disulitkan untuk maksiat.

Ya Allah, ijinkan hamba untuk menujuMu dalam keadaan khusnul khatimah, syahid di jalanMu. 'aamiin...

*****
Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian. 
(HR. Ad-Dailami)

Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah 'Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. 
(HR. Tirmidzi)

Adab Interaksi Sosial dalam Kehidupan Muslim

Manusia adalah makhluk sosial, yang tak bisa hidup seorang diri, atau mengasingkan diri dari kehidupan bermasyarakat. Dengan dasar penciptaan manusia yang memikul amanah berat menjadi khalifah di bumi, maka Islam memerintahkan ummat manusia untuk saling ta’awun, saling tolong-menolong, untuk tersebarnya nilai Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Manusia selalu memerlukan orang lain untuk terus mengingatkannya, agar tak tersesat dari jalan Islam. Allah SWT mengingatkan bahwa peringatan ini amat penting bagi kaum muslimin.
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (Adz Dzariyat: 55)

Bahkan Allah SWT menjadikan orang-orang yang selalu ta’awun dalam kebenaran dan kesabaran dalam kelompok orang yang tidak merugi hidupnya. (QS: Al Ashr: 1-3). Maka hendaknya ummat Islam mengerahkan segala daya dan upayanya untuk senantiasa mengadakan perubahan ke arah kebaikan, pada masyarakat dengan memanfaatkan peluang, momen yang ada.

Adapun, terkait dengan itu semua, ada juga beberapa adab yang hendaknya dipegang oleh setiap muslim.

Adab dengan saudara seperjuangan
a.    Husnudzon dan memohonkan maaf pada mereka.
b.    Menampakkan cinta pada mereka dan menahan marah karena kelalaian mereka.
“…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (Ali Imron:134)
Manusia adalah tempatnya salah dan lalai, baik diri kita maupun saudara kita tak luput dari sifat itu. Adalah tidak adil jika kita memarahi saudara, apalagi memutuskan hubungan dengannya ketika lalai. Justru yang paling baik adalah dengan menesihatinya. Setinggi-tinggi martabat pergaulan adalah dengan tetap menjalin kasih sayang baik ketika lalai maupun ingat. Seperti itulah salah satu ciri kehidupan masyarakat muslim.
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” (Al Fath:29)
Bahkan kadang kala kecintaan itu kita ikrarkan. Abu Kuraimah bin Ma’diy Karib Ra berkata; Bersabda Rasulullah SAW: “Jika seorang mencintai saudaranya, maka beritahukanlah kepadanya bahwa ia mencintainya karena Allah” (Abu Dawud). Sedangkan anjuran untuk menahan marah cukuplah nasihat Rasulullah SAW ketika seseorang datang kepada beliau dan berkata: “Nasihatilah saya”, kemudian Nabi SAW bersabda: “Jangan marah”, kemudian orang itu meminta mengulangi nasihat lagi, jawab Nabi :“Jangan marah” (HR Bukhari). Marah itu menghimpun berbagai kejahatan dan setiap kejahatan membawa dosa, sedangkan menahannya adalah menangkal dosa yang berarti memetik pahala surga. Muadz bin Anas berkata: Bersabda Rasulullah SAW: ”Siapa yang menahan marah padahal ia mampu memuaskannya, maka kelak di hari kiamat Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk, kemudian disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi).

c.    Mendo’akan mereka ketika ghaib
“Mintalah ampun untuk dosamu sendiri dan untuk kaum muslimin lelaki dan perempuan
(Muhammad: 19)
Wujud ukhuwah Islamiyah yang telah dibina Rasulullah SAW ketika periode hijrah sangat nyata, bukan seruan bibir semata. Mereka saling mengutamakan kebutuhan saudaranya yang baru dibina itu Mereka saling memberikan harta bahkan jiwanya untuk sebuah persudaraan karena Allah SWT. Mereka juga memberikan do’anya. “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman” (Al Hasyr: 10)
Abu Darda’ RA berkata, bersabda Rasulullah SAW: “Do’a seorang muslim untuk saudaranya di luar pengetahuan yang dido’akan itu do’a yang mustajab, di atas kepala orang yang berdo’a itu ada Malaikat yang ditugaskan supaya tiap ia berdo’a baik untuk saudaranya itu supaya disambut: amin wa laka bi mitslin (semoga diterima dan untukmu sendiri seperti itu)” (HR. Muslim).

d.    Bantulah saudaramu baik dalam kondisi mendzolimi atau terdzolimi, yaitu mencegah kejahatannya.

e.    Mengakui pertolongan mereka baik dalam senang atau duka sebagai ungkapan bahwa kekuatannya (baca:kita) tidak mungkin bergerak sendiri dalam kehidupan.

f.    Tidak suka mencelakakan mereka dan bersegera untuk menghilangkannya/ menolak.

g.    Mempermudah urusan-urusan yang sulit.

Salah satu dari ciri seorang muslim adalah suka mempermudah segala urusan yang dialami saudaranya. “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan” (Al Baqarah:185)
“Ajarilah olehmu dan mudahkanlah olehmu dan jangan kamu mempersulit, dan jika salah seorang di antara kamu ada yang marah, maka hendaklah kamu diam” (HR. (Bukhari).

Dari Ummul Mu’minin RA: “Jika menghadapi dua perkara, Rasulullah akan memilih yang termudah, jika kiranya tidak mengandung dosa. Maka jika urusan itu mengandung dosa, seluruh manusia harus menjauhinya. Dan apa yang menjadi pendirian Rasulullah SAW dalam menghadapi sesuatu, ialah tidak membalas dendam kepada siapapun jika yang disakiti itu hanya dirinya sendiri, kecuali jika larangan Allah telah dilanggar, maka beliau akan marah, dan membalasnya semata-mata hanya karena Allah” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Abu Qatadah RA berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW berkata, ”Barangsiapa yang memudahkan kesulitan muslim lainnya, untuk mendapatkan keselamatan dari Allah dari kesulitan-kesulitan hari kiamat, maka mudahkanlah kesulitan (orang lain) atau melepaskan bebannya” (HR. Muslim).

h.    Memberikan nasihat.

Tak tersisa dalam hidup ini kecuali tiga kelompok: Seorang dimana kamu mendapatkan bergaul/ma’asyaroh dengannya, kalau kamu menyimpang dari jalur dia meluruskanmu, dan dia memberikan cukup kehidupanmu, tidak ada seorang yang bisa membebanimu, dan sholat di masjid jami’ kamu terhindar dari lupa padanya dan mendapatkan penghalang. (Perkataan Hasan Al Bashri).
Dan berkata Al Muhasibiy, “Ketahuilah orang yang menasihatimu sungguh dia mencintaimu, dan barangsiapa yang menjilat kamu maka dia menipumu/mengujimu, dan siapa yang tak menerima nasihatmu bukanlah saudaramu”.

Adab dengan murabbi (pendidik)
a.    Penghargaan dan memuliakan mereka karena Allah SWT telah menjadikan mereka sebab masuknya kalian ke dalam bintang yang besar (jama’ah) meskipun kalian mendahuluinya.

Adab dalam bergaul dengan murobbi adalah dengan memuliakannya karena Allah SWT, memohonkan do’a bagi mereka. Karena mereka adalah orang-orang sholeh yang telah meghantarkan kita ke jalan Allah SWT. Tidak diperkenankan bagi kita untuk mencelanya, membesar-besarkan keburukannya dan berpaling bahkan membutakan diri dari kebaikan-kebaikan yang telah kita terima. Kita hendaknya bersabar dalam berjuang bersama-sama mereka, tidak terprovokasi oleh orang-orang hendak yang menjerumuskan, melemahkan atau membelokkan arah jalan da’wah kita, misalnya ada yang sering mengatakan kita dengan eksklusif, taqlid buta, jumud, tarbiyah tak akan mendapatkan apa-apa dan bukan segalanya untuk apa diteruskan, dan suara-suara miring lainnya. Ingatlah firman Allah SWT.
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang yang menyeru Rabb-nya di pagi hari dan senja hari dengan mengharap ridha-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan mereka adalah kaum yang melampaui batas” 
(Al Kahfi:28).

Dahulu kita dalam keterpurukan jahiliyah, dan sekarang tampak kemilau cahaya keislaman, kemudian memasukkan kita ke dalam sebuah gerakan besar, mewujudkan segala potensi yang selama ini terpendam, serta mengikatnya dengan jalinan ruhul islami.

“Manusia itu ibarat barang tambang seperti logam emas dan perak, terpandangnya mereka ketika masa jahiliyah akan terpandang juga ketika masa islamnya, jika mereka telah memahami. Adapun ruh-ruh itu ibarat laskar tentara yang siap tempur, maka yang saling mengenal akan intim, sedangkan yang tidak mengenal akan berceceran” 
(HR. Bukhori dan Asy Syaikhoni)

Siapakah yang mengasah dan membentuknya ke arah itu? Adalah para murobi tercinta!
b.    Sesungguhnya mereka bukan ustadz-mu dahulu saja, maka jangan kalian putus mereka, dan hormatilah mereka serta keluarga mereka untuk di ziarahi.
c.    Terus menerus menyebut kebaikan mereka dan melupakan keburukan mereka.

Tak hanya dengan sesama muslim, dengan orang-orang nonmuslim juga diatur dalam Islam. Subhanallah, betapa sempurnanya Islam. Mengatur seluruh kehidupan manusia mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Tak ada yang terlewat satupun.
Wallahu a’lam

*dari berbagai sumber

Kala DIA Cemburu

Mungkin ini kedua kalinya saya mengalami “kegagalan” dalam menjalin sebuah persahabatan. Sebuah jalinan persahabatan yang dulunya terjalin begitu indah, suka duka kita lalui bersama. Ibarat satu tubuh, jika yang satu mengalami sakit, maka yang lain juga akan merasakan hal yang sama.

Pelan tapi pasti, sang sahabat terus merasuki pikiranku, bahkan hatiku. Tiap hari, tiap detik tak bisa lepas pikiran ini dari memikirkannya. Hingga suatu saat, saya melakukan sebuah kesalahan yang berakibat fatal. Sang sahabat menjauhi, bahkan mungkin "membenci". masyaAllah, shock berat rasanya. Hingga turut berpengaruh pada kesehatan fisik, yang ujung-ujungnya juga berpengaruh pada aktifitas-aktifitas lainnya. Betapa tidak shock, dulu kami saling menguatkan dalam dakwah, saling cerita ini itu, namun tiba-tiba semuanya 'hancur".

Sampai kini, meski sedang sakit cukup parah, yang sampai saya merasakan bahwa ajalku itu telah dekat, saya masih terus memikirkannya, berusaha mencari kedamaian. Tapi tak didapat. Yang ada malah sang sahabat semakin menjauhi dan "membenci". Itu sebabnya kuputuskan untuk off dari segala sesuatu yang berhubungan dengan sang sahabat, bukan hendak memutus silaturahim, karena do’a masih tetap dan selalu terlantun untuk sang sahabat. Tapi hanya mencoba untuk mencari suatu solusi yang mungkin lebih baik.

Alhamdulillah, masih diberikan sakit oleh Sang Maha Pemberi Nafas. Ditengah nafas yang tersengal-sengal, saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk melakukan evaluasi besar-besaran.

Mencoba terus berhuznuzhan atas apa yang menimpa. Barangkali Allah sedang menunjukkan kecemburuanNya, karena selama ini pikiran dan hati saya lebih banyak dipenuhi oleh sang sahabat, meski “dibungkus” oleh dakwah, namun saya pikir ini juga tidak benar. Ada ujian komitmen terhadapa niat yang dibangun di awal, apakah saya masih tetap produktif tanpa dia atau tidak. Allah mungkin ingin melihat sejauh mana komitmen saya terhadap jalan yang telah saya pilih.

"Dari Umar bin Khathab r.a. ia berkata: "Saya mendengar Rasulallah SAW bersabda: "Sesungguhnya semua amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan tiap-tiap orang itu akan memperoleh apa yang diniatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasulnya, maka dia akan mendapat pahala dari Allah dan syafa'at dari Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya untuk memperoleh duniawi atau mencari wanita yang akan dikawinnya, maka hijrahnya akan menghasilkan sesuai dengan niatnya."
HR. Bukhari dan Muslim

Islam cukup besar menaruh perhatian terhadap niat atau perasaan yang menyertai amal  perbuatan manusia. Karena  nilai amal ibadah manusia, hakikatnya kembali kepada si pemiliknya, dan tergantung kepada niatnya.

Dengan demikian kita mengetahui makna yang terkandung dalam hadits tersebut di atas: "Bahwa semua amal perbuatan itu tergantung sesuai dengan niatnya". Maka nilai setiap amal perbuatan itu sesuai dengan nilai niat yang membangkitkannya. Apabila niatnya baik, maka baiklah; apabila niatnya jelek, maka jeleklah; apabila niatnya hina, maka hinalah dan tidak akan terbalik. Inilah arti  dari ikhtisar hadits tersebut.

Perkataan bahwa: "sesungguhnya amal-amal itu harus dengan niat", maksudnya bahwa seluruh amal ibadah tidak diakui oleh syara', melainkan yang disertai dengan niat yang benar-benar untuk beribadah, yakni karena Allah semata-mata.

Jika kita telah mengetahui, bahwa semua amal perbuatan itu sebanding dan sesuai dengan nilai niatnya dan bagi setiap amal perbuatan itu ada balasan bahagia di dunia dan kenikmatan di akhirat atau sebaliknya, maka Rasulallah SAW telah menjelaskan di dalam jumlah kedua dari hadits tersebut yang berbunyi:

"Barangsiapa yang niatnya untuk memperoleh pahala dan keridhaan Allah, maka baginya pahala dan keridhaan-Nya, dan barangsiapa yang niatnya jahat, maka baginya kecelakaan; barangsiapa yang niatnya semata-mata untuk kemuliaan duniawi, maka dia tidak akan mendapat pahala."

Dan bentuk yang sederhana di dalam hadits ini memberi pengertian, bahwa sesungguhnya amal tanpa niat, maka seseorang tidak akan mendapat sesuatu atau tidak berakibat sesuatu.

Hadits ini mengajak kita mengerjakan berbagai urusan yang luhur lagi tinggi nilainya, menyuruh kita ikhlas di dalam perbuatan taat dan memerintahkan kita berbakti kepada agama. Dan menjelaskan pula bahwa sesungguhnya semua amal perbuatan itu tidak cukup dilihat dari segi lahirnya saja, bahkan yang mendorong melakukannya itulah yang mempunyai pengaruh besar di dalam penilaian rendah dan tingginya dan disiksa atau diberi pahala.

Dan jika niat kita sudah benar, insyaAllah sebesar apapun kekecewaan yang diakibatkan leh makhlukNya, tidak akan berimbas terhadap produktifitas kita dalam melakukan amalan-amalan untuk meraih ridhoNya.

Meskipun ada sedikit rasa sakit dan kecewa, namun di sisi lain tetap ada rasa syukur yang tak terhingga.

Wallahu a’alam bishshowab

Rabu, 22 Desember 2010

Bukan Menutup, hanya Menyimpan saja

Sebuah keputusan yang tidak mudah akhirnya diambil juga. Aku berhasil mengalahkan "egoku". Sudah cukup sakit yang kurasakan, tak ingin menambah luka lagi. Jadi lebih baik aku diam, dan pergi. Mulai detik ini, hari ini, aku harus membuka lembaran baru. Bukan melupakan yang lama, hanya ingin fokus dengan apa yang ingin dikejar saja. Berusaha bangkit dan kembali berlari

Aku bosan
Ingin meninggalkan semua ini....
Aku hanya mengharap ridhoMu...

Bismillah..

"Suatu hari nanti saat semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berada di antara mereka, yang bercerita tentang perjuangan yang indah, dimana kita, sang pejuang itu sendiri. Tak pernah kehabisan energi tuk terus bergerak, meski terkadang godaan tuk berhenti atau bahkan berpaling arah begitu menggiurkan."



UJIAN, Antara Kenangan Masa Lalu dan Tatapan Masa Depan

Manusia... Tak sedetikpun waktu kita terlewat dari ujian. Tapi, setiap ujian adalah kesempatan untuk berbuat baik. Bekerjalah dengan kelemahanmu, maka Allah akan menolong dengan kekuatanNya. Berusähalah dengan kehinaanmu, maka Allah akan menolong dengan kemuliaan-Nya.

Ketika berbagai masalah menghimpit, otakku melayang-layang. Semua kenangan perjuangan itu satu persatu hadir. Seolah ingin pergi dari situasi ini, lalu pergi jauh, mencari orang-orang yang ada dalam kenangan-kenangan itu. Tapi, aku kembali berpikir, apa ini bukan pelarian? Tidak, aku tidak ingin menjadi seorang pengecut. Bukan ini yang aku harapkan.

Menangis, hanya itu yang bisa aku lakukan, sembari mengevaluasi diri, terus berusaha membangkitkan semangat yang sudah semakin menipis. Sambil melakukan itu semua, aku berusaha terus memperbaiki diri tanpa harus berhenti bergerak.

Kadang aku berpikir, betapa diri ini sangat manja. Aku terus menghakimi diri sendiri. Ya, menghakimi diriku sendiri, mencoba meng-iqob diri.

Ahhh... Betapa rapuhnya diriku. Lari kesana kemari, menangis, bingung sendiri, berusaha membangkitkan semangat. Ya Rabb... Betapa lemahnya diriku. Aku membutuhkanMu duhai kekasihku..

Ketika aku bercerita tentang kondisi yg sedang kualami, seorang ummahat memberiku nasehat indah...

Jadilah penerang utk orang lain dengan porsinya. Jika memang tidak sanggup menjadi penerang, jangan memaksakan diri hingga membakar diri. Jadilah diri sendiri. Dengan mengikuti kata hati yang baik. Menajamkan hati dengan taqarrub ilaLLah.

Ada masa kita butuh teman, butuh kebersamaan. Ada masa kita perlu menyendiri. Untuk merenung. Membahagiakan diri. Tapi bukan berarti pergi meninggalkan masalah. Karena ketika kembali, toh bertemu dengan masalah itu lagi. Atau bisa jadi malah bertambah masalahnya.
Banyak istighfar...
HasbunaLLah wani'mal wakiil...

Hati dan pikiranku kembali melayang. Jasadku melakukan berbagai aktifitas yang butuh pemikiran berat, namun hatiku melayang entah kemana... Hati dan mata ini masih saja menangis. Hampir 1 bulan lebih aku mengalaminya, rekor sepanjang hidupku.

Kembali berpikir dan terus merenung di setiap detik yang kulewati. Sampai kapan aku seperti ini? Aku malu dengan mereka yang luar biasa, terus bergerak, tidak banyak keluhan. Apa yang aku lakukan ini tidaklah seberapa. Waktuku masih banyak yang kosong. Aku masih sering ongkang-ongkang kaki (menganggur). Sungguh, aku malu. Malu kepadaMu, malu kepada mereka, malu kepada kalian semua.

Dalam diam, aku selalu berpikir. Aku sangat bahagia atas semua yang kualami, saking bahagianya, lagi-lagi aku tak sanggup membendung air mata. Entah sudah berapa puluh liter air mata itu. Air mata kesyukuran, yang aku berharap, kelak akan menjadi salah satu penolongku.

Sepenggal episode kehidupanku yang tidak bernilai apa-apa, ujian-ujian ringan, ada banyak serpihan hikmah di sini. Hikmah itu aku lihat berserakan. Aku akan berusaha mengumpulkannya, tak ingin ada satupun yang terlewat.

Ujian ini tak sekedar mampir. Allah punya skenario yang indah untukku. Ujian ini, akan mengantarkanku pada cita-cita mulia itu. Ujian ini akan menjadi lompatan-lompatan yang dahsyat. Ujian ini... ALLAH... ingin sekali aku di dekap. Di dekap olehMu. Dekap erat aku, jangan pernah lepas lagi... ALLAH, aku meronta dan mengemis. Aku haus ya Rabb...

Kembali aku tersadar. Adakalanya kita mesti belajar mendekap tawa dan duka dengan kadar yang sama mesranya, agar tak ada lagi yang namanya siklus duka lara. Karena yang ada hanyalah syukur tiada tara...

Aku teringat nasehat seorang trainer, Allah tidak menjanjikan langit selau biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar di setiap kehidupan. Tapi Allah berjanji dengan Rahman dan Rahim-Nya akan selalu bersama kita dalam keadaan apapun. Allah akan memberi pelangi di setiap badai. Senyum di setiap air mata, berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap do'a.

Ketika kerja ini tidak dihargai, maka saat ini aku sedang belajar tentang KETULUSAN.
Ketika usaha ini dinilai tidak penting, maka saat ini aku sedang belajar tentang KEIKHLASAN.
Ketika hati ini terluka sangat dalam, maka saat ini aku sedang belajar tentang MEMAAFKAN.
Ketika diri ini harus lelah & kecewa, maka saat ini aku sedang belajar tentang KESUNGGUHAN.
Ketika diri ini merasa sepi & sendiri, maka saat ini aku sedang belajar tentang KETANGGUHAN.

Semangat ini, sekecil apapun harus terus dijaga. Sabar harus terus dipupuk, dan harus selalu tersenyum. Ini semua adalah bagian dari proses belajar di universitas kehidupan.

Perjuangan tak kan usai! Hingga jasad hancur, atau tiang-tiang Al Aqsha tegak menjulang, menopang atapnya menaungi ummat manusia...

Semoga langkah juang kian kokoh, berdiri kian tegak, menerobos medan yang lebih besar...

AKU AKAN TERUS BERTAHAN!!!

Tak bisa dan tak tahan berlama-lama dengan keterpurukan. Langkah baru harus selalu ditapakkan setiap detiknya. Aku berpikir bisa, maka insyaAllah aku BISA!!!

Ar-Ruh Al Jadid, fii jasadil ummah!

Diam dan Pergi, tapi tetap Do'akan

 
Pernah merasa ditinggalkan oleh sahabat yang sekian lama telah menemani perjuangan? Sahabat yang sekian lama akrab, biasa berbagi dalam suka dan duka? Bagaimana perasaan Anda? Kalau ada yang sakit, bukankah itu wajar? Apalagi jika sang sahabat pergi tiba-tiba tanpa memberikan penjelasan yang jelas. Barangkali Anda sering dibuat bingung oleh tingkah sahabat Anda yang tidak biasa itu. Dan tidak jarang akan memunculkan spekulasi-spekulasi yang pada akhirnya hanya akan menyakiti diri sendiri. Ya, saya katakan menyakiti diri sendiri!

Kondisi seperti ini memang sangat tidak nyaman. Tabayyun adalah langkah tepat yang mesti dilakukan. Tapi yang jadi pertanyaannya kemudian, bagaimana kalau upaya kita untuk ber-tabayyun tidak mendapatkan respon? Atau coba kita meminta orang lain, yang dekat dengan sang sahabat untuk melakukan tabayyun. Tapi ketika ternyata hasilnya masih nihil, upaya terakhir yang bisa kita lakukan adalah mendo'akan, serahkan semuanya hanya kepada Allah.

Diam, dan "pergi" meninggalkannya, tapi bukan memutus tali silaturahim. Doakan saja, dan lupakan saja, masih ada banyak hal yang mesti diurus, jangan habiskan energi untuk mengurus sesuatu yang tidak jelas. Yang penting kita sudah berikhtiar untuk menyelesaikannya. Masih ada banyak hal yang mesti kita kerjakan. Menangis juga tidak akan menyelesaikan masalah. Jadi, serahkan saja kepadaNya. Meski berat, tapi bukan berarti tidak bisa.

Barangkali ada salah dengan kita, dan kita harus melakukan evaluasi besar-besaran terhadap diri kita. Saya jadi berpikir, jika fenomena seperti itu menimpa saya, barangkali selama ini kita sudah melupakan Allah. Padahal Allah itu Maha Pencemburu, maka Dia ingin agar kita tidak berlebihan berharap kepada makhluknya. Sebuah petikan taushiyah yang mungkin bisa kita jadikan bahan evaluasi :

"Janganlah memalingkan wajahmu dari perintah Sang Maha Kuasa, agar tak seorangpun memalingkan muka darimu ".
(Sa'di)

"Hati yang kosong dari Allah pasti akan penuh dengan makhluk, sehingga iapun beramal untuk dan karena makhluk. Kemudian tanpa dia sadarai, iapun binasa karena riya'"
(Shaid Al-Khatir, Ibnul Jauzi)

Fashbir shobron jamiil...
"Berikan sabar di atas sabar, maka Allah akan segera datang dengan jalan keluarNya"
(Ust. Rahmat Abdullah)

Suatu saat, sang sahabat pasti akan merindukan masa-masa "indah" bersama

*semoga setiap air mata yang ada, menjadi saksi tersendiri pada hari di mana tidak ada naungan selain atas ijinNya

Sebuah obsesi yang belum terwujud ...

Dahulu, ketika Khalifah Al Makmun membangun perpustakaan Bait Al Hikmah, maka semakin lengkaplah kualitas keilmuan kaum muslimin saat itu. Khalifah pun menjadi orang yang sangat menghargai kedudukan ilmu dalam khazanah keIslaman. Sejenak membayangkan suasana saat itu, barangkali kita akan mendapati bangunan megah nan indah dengan tanam dan pohon yang rindang. Di dalamnya tersimpanlah karya – karya maestro ilmuwan muslim seantero jagad. Setiap harinya banyak pelajar yang keluar masuk untuk “berguru” dengan peninggalan dan karya ulama-ulama besar. Saat itulah menjadi zaman yang takkan pernah dilupakan oleh manusia sampai kapan pun.

Terinspirasi dari sejarah itulah, saya mendeklarasikan diri, ingin menjadi bagian dari manusia yang bekerja untuk mencetak manusia-manusia berjiwa pemimpin. Ruh yang dibangun adalah perjuangan, maka seluruh sisi paradigma dan kinerja saya tidak terlepas dari perjuangan untuk mencerahkan masyarakat ini menjadi umat. Namun, pertanyaannya sudah sejauh mana saya merancang diri untuk menjadi pemimpin yang tangguh di masa depan. Sudah sejauh mana saya mengagendakan pengembangan diri pada tahun, bulan, pekan, dan hari ini. Sejauh mana saya memiliki tradisi membaca dan menulis. Karena sesungguhnya tradisi inilah salah satu faktor penting yang akan mempercepat kedewasaan saya dan ”organisasi” pun akan terbantu dengan ilmu dan tradisi yang kita miliki.

Di sini, saya yang tidak lain juga telah menjadi bagian tak terpisahkan dari cita-cita tersebut, ingin mengawalinya dengan mendirikan sebuah perpustakaan sebagai wadah untuk merealisasikan impian tersebut.

Berawal dari keinginan kecil. Kemudian, terumuskan sebuah “ruang” mungil untuk memulai menata batu bata “rumah kebijaksaaan”. Terkumpullah beberapa buku-buku milik pribadi yang dibeli sedikit demi sedikit dari hasil tabungan pribadi untuk mengisi ruang mungil itu (yang masih menyatu dengan kamar) menjadi Rumah Kebijaksanaan. Ada juga beberapa buku hasil hadiah beberapa sahabat juga karena suatu prestasi tertentu (prestasi apa ya..).

 “Saya perlu nama, untuk rumah ini?” dan terpilihlah nama BAIT AL HIKMAH. Semoga nama ini memberi ruh bagi usaha ini. Pelan, mulai terkumpul buku-buku yang cukup untuk menjadikan ruang ini layak untuk disebut sebagai perpustakaan.

Semoga masih ada kesempatan bagi saya untuk membangun Bait Al Hikmah. Kesempatan untuk andil dalam membangun peradaban Islam.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah mencipta manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al ’Alaq : 1-5)

“Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”
(QS. Al Baqarah : 269)

Obsesi mendirikan perpustakaan sebagai “Wahana referensi khazanah keIslaman dan data dakwah, menjadi bagian dari penumbuhan tradisi membaca dan menulis dikalangan masyarakat”.

Demikian gambaran tentang sebuah gagasan mengawali langkah menuju arah yang lebih baik. Keberadaan perpustakaan ini tidak lain merupakan ikhtiar saya untuk memberikan tawaran atas permasalahan mendasar yang, menurut saya, sejauh ini belum terpecahkan. Semoga kerja kecil ini dinilaiNya sebagai sebuah amal karena usaha dan kemanfaatannya bagi umat.

Wallahu a'lam bis showab