Mungkin ini kedua kalinya saya mengalami “kegagalan” dalam menjalin sebuah persahabatan. Sebuah jalinan persahabatan yang dulunya terjalin begitu indah, suka duka kita lalui bersama. Ibarat satu tubuh, jika yang satu mengalami sakit, maka yang lain juga akan merasakan hal yang sama.
Pelan tapi pasti, sang sahabat terus merasuki pikiranku, bahkan hatiku. Tiap hari, tiap detik tak bisa lepas pikiran ini dari memikirkannya. Hingga suatu saat, saya melakukan sebuah kesalahan yang berakibat fatal. Sang sahabat menjauhi, bahkan mungkin "membenci". masyaAllah, shock berat rasanya. Hingga turut berpengaruh pada kesehatan fisik, yang ujung-ujungnya juga berpengaruh pada aktifitas-aktifitas lainnya. Betapa tidak shock, dulu kami saling menguatkan dalam dakwah, saling cerita ini itu, namun tiba-tiba semuanya 'hancur".
Sampai kini, meski sedang sakit cukup parah, yang sampai saya merasakan bahwa ajalku itu telah dekat, saya masih terus memikirkannya, berusaha mencari kedamaian. Tapi tak didapat. Yang ada malah sang sahabat semakin menjauhi dan "membenci". Itu sebabnya kuputuskan untuk off dari segala sesuatu yang berhubungan dengan sang sahabat, bukan hendak memutus silaturahim, karena do’a masih tetap dan selalu terlantun untuk sang sahabat. Tapi hanya mencoba untuk mencari suatu solusi yang mungkin lebih baik.
Alhamdulillah, masih diberikan sakit oleh Sang Maha Pemberi Nafas. Ditengah nafas yang tersengal-sengal, saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk melakukan evaluasi besar-besaran.
Mencoba terus berhuznuzhan atas apa yang menimpa. Barangkali Allah sedang menunjukkan kecemburuanNya, karena selama ini pikiran dan hati saya lebih banyak dipenuhi oleh sang sahabat, meski “dibungkus” oleh dakwah, namun saya pikir ini juga tidak benar. Ada ujian komitmen terhadapa niat yang dibangun di awal, apakah saya masih tetap produktif tanpa dia atau tidak. Allah mungkin ingin melihat sejauh mana komitmen saya terhadap jalan yang telah saya pilih.
Islam cukup besar menaruh perhatian terhadap niat atau perasaan yang menyertai amal perbuatan manusia. Karena nilai amal ibadah manusia, hakikatnya kembali kepada si pemiliknya, dan tergantung kepada niatnya.
Dengan demikian kita mengetahui makna yang terkandung dalam hadits tersebut di atas: "Bahwa semua amal perbuatan itu tergantung sesuai dengan niatnya". Maka nilai setiap amal perbuatan itu sesuai dengan nilai niat yang membangkitkannya. Apabila niatnya baik, maka baiklah; apabila niatnya jelek, maka jeleklah; apabila niatnya hina, maka hinalah dan tidak akan terbalik. Inilah arti dari ikhtisar hadits tersebut.
Perkataan bahwa: "sesungguhnya amal-amal itu harus dengan niat", maksudnya bahwa seluruh amal ibadah tidak diakui oleh syara', melainkan yang disertai dengan niat yang benar-benar untuk beribadah, yakni karena Allah semata-mata.
Jika kita telah mengetahui, bahwa semua amal perbuatan itu sebanding dan sesuai dengan nilai niatnya dan bagi setiap amal perbuatan itu ada balasan bahagia di dunia dan kenikmatan di akhirat atau sebaliknya, maka Rasulallah SAW telah menjelaskan di dalam jumlah kedua dari hadits tersebut yang berbunyi:
"Barangsiapa yang niatnya untuk memperoleh pahala dan keridhaan Allah, maka baginya pahala dan keridhaan-Nya, dan barangsiapa yang niatnya jahat, maka baginya kecelakaan; barangsiapa yang niatnya semata-mata untuk kemuliaan duniawi, maka dia tidak akan mendapat pahala."
Dan bentuk yang sederhana di dalam hadits ini memberi pengertian, bahwa sesungguhnya amal tanpa niat, maka seseorang tidak akan mendapat sesuatu atau tidak berakibat sesuatu.
Hadits ini mengajak kita mengerjakan berbagai urusan yang luhur lagi tinggi nilainya, menyuruh kita ikhlas di dalam perbuatan taat dan memerintahkan kita berbakti kepada agama. Dan menjelaskan pula bahwa sesungguhnya semua amal perbuatan itu tidak cukup dilihat dari segi lahirnya saja, bahkan yang mendorong melakukannya itulah yang mempunyai pengaruh besar di dalam penilaian rendah dan tingginya dan disiksa atau diberi pahala.
Dan jika niat kita sudah benar, insyaAllah sebesar apapun kekecewaan yang diakibatkan leh makhlukNya, tidak akan berimbas terhadap produktifitas kita dalam melakukan amalan-amalan untuk meraih ridhoNya.
Meskipun ada sedikit rasa sakit dan kecewa, namun di sisi lain tetap ada rasa syukur yang tak terhingga.
Wallahu a’alam bishshowab
Pelan tapi pasti, sang sahabat terus merasuki pikiranku, bahkan hatiku. Tiap hari, tiap detik tak bisa lepas pikiran ini dari memikirkannya. Hingga suatu saat, saya melakukan sebuah kesalahan yang berakibat fatal. Sang sahabat menjauhi, bahkan mungkin "membenci". masyaAllah, shock berat rasanya. Hingga turut berpengaruh pada kesehatan fisik, yang ujung-ujungnya juga berpengaruh pada aktifitas-aktifitas lainnya. Betapa tidak shock, dulu kami saling menguatkan dalam dakwah, saling cerita ini itu, namun tiba-tiba semuanya 'hancur".
Sampai kini, meski sedang sakit cukup parah, yang sampai saya merasakan bahwa ajalku itu telah dekat, saya masih terus memikirkannya, berusaha mencari kedamaian. Tapi tak didapat. Yang ada malah sang sahabat semakin menjauhi dan "membenci". Itu sebabnya kuputuskan untuk off dari segala sesuatu yang berhubungan dengan sang sahabat, bukan hendak memutus silaturahim, karena do’a masih tetap dan selalu terlantun untuk sang sahabat. Tapi hanya mencoba untuk mencari suatu solusi yang mungkin lebih baik.
Alhamdulillah, masih diberikan sakit oleh Sang Maha Pemberi Nafas. Ditengah nafas yang tersengal-sengal, saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk melakukan evaluasi besar-besaran.
Mencoba terus berhuznuzhan atas apa yang menimpa. Barangkali Allah sedang menunjukkan kecemburuanNya, karena selama ini pikiran dan hati saya lebih banyak dipenuhi oleh sang sahabat, meski “dibungkus” oleh dakwah, namun saya pikir ini juga tidak benar. Ada ujian komitmen terhadapa niat yang dibangun di awal, apakah saya masih tetap produktif tanpa dia atau tidak. Allah mungkin ingin melihat sejauh mana komitmen saya terhadap jalan yang telah saya pilih.
"Dari Umar bin Khathab r.a. ia berkata: "Saya mendengar Rasulallah SAW bersabda: "Sesungguhnya semua amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan tiap-tiap orang itu akan memperoleh apa yang diniatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasulnya, maka dia akan mendapat pahala dari Allah dan syafa'at dari Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya untuk memperoleh duniawi atau mencari wanita yang akan dikawinnya, maka hijrahnya akan menghasilkan sesuai dengan niatnya."
HR. Bukhari dan Muslim
HR. Bukhari dan Muslim
Islam cukup besar menaruh perhatian terhadap niat atau perasaan yang menyertai amal perbuatan manusia. Karena nilai amal ibadah manusia, hakikatnya kembali kepada si pemiliknya, dan tergantung kepada niatnya.
Dengan demikian kita mengetahui makna yang terkandung dalam hadits tersebut di atas: "Bahwa semua amal perbuatan itu tergantung sesuai dengan niatnya". Maka nilai setiap amal perbuatan itu sesuai dengan nilai niat yang membangkitkannya. Apabila niatnya baik, maka baiklah; apabila niatnya jelek, maka jeleklah; apabila niatnya hina, maka hinalah dan tidak akan terbalik. Inilah arti dari ikhtisar hadits tersebut.
Perkataan bahwa: "sesungguhnya amal-amal itu harus dengan niat", maksudnya bahwa seluruh amal ibadah tidak diakui oleh syara', melainkan yang disertai dengan niat yang benar-benar untuk beribadah, yakni karena Allah semata-mata.
Jika kita telah mengetahui, bahwa semua amal perbuatan itu sebanding dan sesuai dengan nilai niatnya dan bagi setiap amal perbuatan itu ada balasan bahagia di dunia dan kenikmatan di akhirat atau sebaliknya, maka Rasulallah SAW telah menjelaskan di dalam jumlah kedua dari hadits tersebut yang berbunyi:
"Barangsiapa yang niatnya untuk memperoleh pahala dan keridhaan Allah, maka baginya pahala dan keridhaan-Nya, dan barangsiapa yang niatnya jahat, maka baginya kecelakaan; barangsiapa yang niatnya semata-mata untuk kemuliaan duniawi, maka dia tidak akan mendapat pahala."
Dan bentuk yang sederhana di dalam hadits ini memberi pengertian, bahwa sesungguhnya amal tanpa niat, maka seseorang tidak akan mendapat sesuatu atau tidak berakibat sesuatu.
Hadits ini mengajak kita mengerjakan berbagai urusan yang luhur lagi tinggi nilainya, menyuruh kita ikhlas di dalam perbuatan taat dan memerintahkan kita berbakti kepada agama. Dan menjelaskan pula bahwa sesungguhnya semua amal perbuatan itu tidak cukup dilihat dari segi lahirnya saja, bahkan yang mendorong melakukannya itulah yang mempunyai pengaruh besar di dalam penilaian rendah dan tingginya dan disiksa atau diberi pahala.
Dan jika niat kita sudah benar, insyaAllah sebesar apapun kekecewaan yang diakibatkan leh makhlukNya, tidak akan berimbas terhadap produktifitas kita dalam melakukan amalan-amalan untuk meraih ridhoNya.
Meskipun ada sedikit rasa sakit dan kecewa, namun di sisi lain tetap ada rasa syukur yang tak terhingga.
Wallahu a’alam bishshowab
Semangat lagi ukhtii..
BalasHapusInsya Allah,, suatu saat Allah akan membukakan hatinya melalui do'a yang selalu kau bisikkan untuk sahabatmu,,