Pernah merasa ditinggalkan oleh sahabat yang sekian lama telah menemani perjuangan? Sahabat yang sekian lama akrab, biasa berbagi dalam suka dan duka? Bagaimana perasaan Anda? Kalau ada yang sakit, bukankah itu wajar? Apalagi jika sang sahabat pergi tiba-tiba tanpa memberikan penjelasan yang jelas. Barangkali Anda sering dibuat bingung oleh tingkah sahabat Anda yang tidak biasa itu. Dan tidak jarang akan memunculkan spekulasi-spekulasi yang pada akhirnya hanya akan menyakiti diri sendiri. Ya, saya katakan menyakiti diri sendiri!
Kondisi seperti ini memang sangat tidak nyaman. Tabayyun adalah langkah tepat yang mesti dilakukan. Tapi yang jadi pertanyaannya kemudian, bagaimana kalau upaya kita untuk ber-tabayyun tidak mendapatkan respon? Atau coba kita meminta orang lain, yang dekat dengan sang sahabat untuk melakukan tabayyun. Tapi ketika ternyata hasilnya masih nihil, upaya terakhir yang bisa kita lakukan adalah mendo'akan, serahkan semuanya hanya kepada Allah.
Diam, dan "pergi" meninggalkannya, tapi bukan memutus tali silaturahim. Doakan saja, dan lupakan saja, masih ada banyak hal yang mesti diurus, jangan habiskan energi untuk mengurus sesuatu yang tidak jelas. Yang penting kita sudah berikhtiar untuk menyelesaikannya. Masih ada banyak hal yang mesti kita kerjakan. Menangis juga tidak akan menyelesaikan masalah. Jadi, serahkan saja kepadaNya. Meski berat, tapi bukan berarti tidak bisa.
Barangkali ada salah dengan kita, dan kita harus melakukan evaluasi besar-besaran terhadap diri kita. Saya jadi berpikir, jika fenomena seperti itu menimpa saya, barangkali selama ini kita sudah melupakan Allah. Padahal Allah itu Maha Pencemburu, maka Dia ingin agar kita tidak berlebihan berharap kepada makhluknya. Sebuah petikan taushiyah yang mungkin bisa kita jadikan bahan evaluasi :
"Janganlah memalingkan wajahmu dari perintah Sang Maha Kuasa, agar tak seorangpun memalingkan muka darimu ".
(Sa'di)
"Hati yang kosong dari Allah pasti akan penuh dengan makhluk, sehingga iapun beramal untuk dan karena makhluk. Kemudian tanpa dia sadarai, iapun binasa karena riya'"
(Shaid Al-Khatir, Ibnul Jauzi)
Fashbir shobron jamiil...
"Berikan sabar di atas sabar, maka Allah akan segera datang dengan jalan keluarNya"
(Ust. Rahmat Abdullah)
Suatu saat, sang sahabat pasti akan merindukan masa-masa "indah" bersama
(Sa'di)
"Hati yang kosong dari Allah pasti akan penuh dengan makhluk, sehingga iapun beramal untuk dan karena makhluk. Kemudian tanpa dia sadarai, iapun binasa karena riya'"
(Shaid Al-Khatir, Ibnul Jauzi)
Fashbir shobron jamiil...
"Berikan sabar di atas sabar, maka Allah akan segera datang dengan jalan keluarNya"
(Ust. Rahmat Abdullah)
Suatu saat, sang sahabat pasti akan merindukan masa-masa "indah" bersama
*semoga setiap air mata yang ada, menjadi saksi tersendiri pada hari di mana tidak ada naungan selain atas ijinNya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar