Manusia... Tak sedetikpun waktu kita terlewat dari ujian. Tapi, setiap ujian adalah kesempatan untuk berbuat baik. Bekerjalah dengan kelemahanmu, maka Allah akan menolong dengan kekuatanNya. Berusähalah dengan kehinaanmu, maka Allah akan menolong dengan kemuliaan-Nya.
Ketika berbagai masalah menghimpit, otakku melayang-layang. Semua kenangan perjuangan itu satu persatu hadir. Seolah ingin pergi dari situasi ini, lalu pergi jauh, mencari orang-orang yang ada dalam kenangan-kenangan itu. Tapi, aku kembali berpikir, apa ini bukan pelarian? Tidak, aku tidak ingin menjadi seorang pengecut. Bukan ini yang aku harapkan.
Menangis, hanya itu yang bisa aku lakukan, sembari mengevaluasi diri, terus berusaha membangkitkan semangat yang sudah semakin menipis. Sambil melakukan itu semua, aku berusaha terus memperbaiki diri tanpa harus berhenti bergerak.
Kadang aku berpikir, betapa diri ini sangat manja. Aku terus menghakimi diri sendiri. Ya, menghakimi diriku sendiri, mencoba meng-iqob diri.
Ahhh... Betapa rapuhnya diriku. Lari kesana kemari, menangis, bingung sendiri, berusaha membangkitkan semangat. Ya Rabb... Betapa lemahnya diriku. Aku membutuhkanMu duhai kekasihku..
Ketika aku bercerita tentang kondisi yg sedang kualami, seorang ummahat memberiku nasehat indah...
Ketika berbagai masalah menghimpit, otakku melayang-layang. Semua kenangan perjuangan itu satu persatu hadir. Seolah ingin pergi dari situasi ini, lalu pergi jauh, mencari orang-orang yang ada dalam kenangan-kenangan itu. Tapi, aku kembali berpikir, apa ini bukan pelarian? Tidak, aku tidak ingin menjadi seorang pengecut. Bukan ini yang aku harapkan.
Menangis, hanya itu yang bisa aku lakukan, sembari mengevaluasi diri, terus berusaha membangkitkan semangat yang sudah semakin menipis. Sambil melakukan itu semua, aku berusaha terus memperbaiki diri tanpa harus berhenti bergerak.
Kadang aku berpikir, betapa diri ini sangat manja. Aku terus menghakimi diri sendiri. Ya, menghakimi diriku sendiri, mencoba meng-iqob diri.
Ahhh... Betapa rapuhnya diriku. Lari kesana kemari, menangis, bingung sendiri, berusaha membangkitkan semangat. Ya Rabb... Betapa lemahnya diriku. Aku membutuhkanMu duhai kekasihku..
Ketika aku bercerita tentang kondisi yg sedang kualami, seorang ummahat memberiku nasehat indah...
Jadilah penerang utk orang lain dengan porsinya. Jika memang tidak sanggup menjadi penerang, jangan memaksakan diri hingga membakar diri. Jadilah diri sendiri. Dengan mengikuti kata hati yang baik. Menajamkan hati dengan taqarrub ilaLLah.
Ada masa kita butuh teman, butuh kebersamaan. Ada masa kita perlu menyendiri. Untuk merenung. Membahagiakan diri. Tapi bukan berarti pergi meninggalkan masalah. Karena ketika kembali, toh bertemu dengan masalah itu lagi. Atau bisa jadi malah bertambah masalahnya.
Banyak istighfar...HasbunaLLah wani'mal wakiil...
Hati dan pikiranku kembali melayang. Jasadku melakukan berbagai aktifitas yang butuh pemikiran berat, namun hatiku melayang entah kemana... Hati dan mata ini masih saja menangis. Hampir 1 bulan lebih aku mengalaminya, rekor sepanjang hidupku.
Kembali berpikir dan terus merenung di setiap detik yang kulewati. Sampai kapan aku seperti ini? Aku malu dengan mereka yang luar biasa, terus bergerak, tidak banyak keluhan. Apa yang aku lakukan ini tidaklah seberapa. Waktuku masih banyak yang kosong. Aku masih sering ongkang-ongkang kaki (menganggur). Sungguh, aku malu. Malu kepadaMu, malu kepada mereka, malu kepada kalian semua.
Dalam diam, aku selalu berpikir. Aku sangat bahagia atas semua yang kualami, saking bahagianya, lagi-lagi aku tak sanggup membendung air mata. Entah sudah berapa puluh liter air mata itu. Air mata kesyukuran, yang aku berharap, kelak akan menjadi salah satu penolongku.
Kembali berpikir dan terus merenung di setiap detik yang kulewati. Sampai kapan aku seperti ini? Aku malu dengan mereka yang luar biasa, terus bergerak, tidak banyak keluhan. Apa yang aku lakukan ini tidaklah seberapa. Waktuku masih banyak yang kosong. Aku masih sering ongkang-ongkang kaki (menganggur). Sungguh, aku malu. Malu kepadaMu, malu kepada mereka, malu kepada kalian semua.
Dalam diam, aku selalu berpikir. Aku sangat bahagia atas semua yang kualami, saking bahagianya, lagi-lagi aku tak sanggup membendung air mata. Entah sudah berapa puluh liter air mata itu. Air mata kesyukuran, yang aku berharap, kelak akan menjadi salah satu penolongku.
Sepenggal episode kehidupanku yang tidak bernilai apa-apa, ujian-ujian ringan, ada banyak serpihan hikmah di sini. Hikmah itu aku lihat berserakan. Aku akan berusaha mengumpulkannya, tak ingin ada satupun yang terlewat.
Ujian ini tak sekedar mampir. Allah punya skenario yang indah untukku. Ujian ini, akan mengantarkanku pada cita-cita mulia itu. Ujian ini akan menjadi lompatan-lompatan yang dahsyat. Ujian ini... ALLAH... ingin sekali aku di dekap. Di dekap olehMu. Dekap erat aku, jangan pernah lepas lagi... ALLAH, aku meronta dan mengemis. Aku haus ya Rabb...
Kembali aku tersadar. Adakalanya kita mesti belajar mendekap tawa dan duka dengan kadar yang sama mesranya, agar tak ada lagi yang namanya siklus duka lara. Karena yang ada hanyalah syukur tiada tara...
Aku teringat nasehat seorang trainer, Allah tidak menjanjikan langit selau biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar di setiap kehidupan. Tapi Allah berjanji dengan Rahman dan Rahim-Nya akan selalu bersama kita dalam keadaan apapun. Allah akan memberi pelangi di setiap badai. Senyum di setiap air mata, berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap do'a.
Ujian ini tak sekedar mampir. Allah punya skenario yang indah untukku. Ujian ini, akan mengantarkanku pada cita-cita mulia itu. Ujian ini akan menjadi lompatan-lompatan yang dahsyat. Ujian ini... ALLAH... ingin sekali aku di dekap. Di dekap olehMu. Dekap erat aku, jangan pernah lepas lagi... ALLAH, aku meronta dan mengemis. Aku haus ya Rabb...
Kembali aku tersadar. Adakalanya kita mesti belajar mendekap tawa dan duka dengan kadar yang sama mesranya, agar tak ada lagi yang namanya siklus duka lara. Karena yang ada hanyalah syukur tiada tara...
Aku teringat nasehat seorang trainer, Allah tidak menjanjikan langit selau biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar di setiap kehidupan. Tapi Allah berjanji dengan Rahman dan Rahim-Nya akan selalu bersama kita dalam keadaan apapun. Allah akan memberi pelangi di setiap badai. Senyum di setiap air mata, berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap do'a.
Ketika kerja ini tidak dihargai, maka saat ini aku sedang belajar tentang KETULUSAN.
Ketika usaha ini dinilai tidak penting, maka saat ini aku sedang belajar tentang KEIKHLASAN.
Ketika hati ini terluka sangat dalam, maka saat ini aku sedang belajar tentang MEMAAFKAN.
Ketika diri ini harus lelah & kecewa, maka saat ini aku sedang belajar tentang KESUNGGUHAN.
Ketika diri ini merasa sepi & sendiri, maka saat ini aku sedang belajar tentang KETANGGUHAN.
Ketika usaha ini dinilai tidak penting, maka saat ini aku sedang belajar tentang KEIKHLASAN.
Ketika hati ini terluka sangat dalam, maka saat ini aku sedang belajar tentang MEMAAFKAN.
Ketika diri ini harus lelah & kecewa, maka saat ini aku sedang belajar tentang KESUNGGUHAN.
Ketika diri ini merasa sepi & sendiri, maka saat ini aku sedang belajar tentang KETANGGUHAN.
Semangat ini, sekecil apapun harus terus dijaga. Sabar harus terus dipupuk, dan harus selalu tersenyum. Ini semua adalah bagian dari proses belajar di universitas kehidupan.
Perjuangan tak kan usai! Hingga jasad hancur, atau tiang-tiang Al Aqsha tegak menjulang, menopang atapnya menaungi ummat manusia...
Semoga langkah juang kian kokoh, berdiri kian tegak, menerobos medan yang lebih besar...
Perjuangan tak kan usai! Hingga jasad hancur, atau tiang-tiang Al Aqsha tegak menjulang, menopang atapnya menaungi ummat manusia...
Semoga langkah juang kian kokoh, berdiri kian tegak, menerobos medan yang lebih besar...
AKU AKAN TERUS BERTAHAN!!!
Tak bisa dan tak tahan berlama-lama dengan keterpurukan. Langkah baru harus selalu ditapakkan setiap detiknya. Aku berpikir bisa, maka insyaAllah aku BISA!!!
Ar-Ruh Al Jadid, fii jasadil ummah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar