Dahulu, ketika Khalifah Al Makmun membangun perpustakaan Bait Al Hikmah, maka semakin lengkaplah kualitas keilmuan kaum muslimin saat itu. Khalifah pun menjadi orang yang sangat menghargai kedudukan ilmu dalam khazanah keIslaman. Sejenak membayangkan suasana saat itu, barangkali kita akan mendapati bangunan megah nan indah dengan tanam dan pohon yang rindang. Di dalamnya tersimpanlah karya – karya maestro ilmuwan muslim seantero jagad. Setiap harinya banyak pelajar yang keluar masuk untuk “berguru” dengan peninggalan dan karya ulama-ulama besar. Saat itulah menjadi zaman yang takkan pernah dilupakan oleh manusia sampai kapan pun.
Terinspirasi dari sejarah itulah, saya mendeklarasikan diri, ingin menjadi bagian dari manusia yang bekerja untuk mencetak manusia-manusia berjiwa pemimpin. Ruh yang dibangun adalah perjuangan, maka seluruh sisi paradigma dan kinerja saya tidak terlepas dari perjuangan untuk mencerahkan masyarakat ini menjadi umat. Namun, pertanyaannya sudah sejauh mana saya merancang diri untuk menjadi pemimpin yang tangguh di masa depan. Sudah sejauh mana saya mengagendakan pengembangan diri pada tahun, bulan, pekan, dan hari ini. Sejauh mana saya memiliki tradisi membaca dan menulis. Karena sesungguhnya tradisi inilah salah satu faktor penting yang akan mempercepat kedewasaan saya dan ”organisasi” pun akan terbantu dengan ilmu dan tradisi yang kita miliki.
Di sini, saya yang tidak lain juga telah menjadi bagian tak terpisahkan dari cita-cita tersebut, ingin mengawalinya dengan mendirikan sebuah perpustakaan sebagai wadah untuk merealisasikan impian tersebut.
Berawal dari keinginan kecil. Kemudian, terumuskan sebuah “ruang” mungil untuk memulai menata batu bata “rumah kebijaksaaan”. Terkumpullah beberapa buku-buku milik pribadi yang dibeli sedikit demi sedikit dari hasil tabungan pribadi untuk mengisi ruang mungil itu (yang masih menyatu dengan kamar) menjadi Rumah Kebijaksanaan. Ada juga beberapa buku hasil hadiah beberapa sahabat juga karena suatu prestasi tertentu (prestasi apa ya..).
“Saya perlu nama, untuk rumah ini?” dan terpilihlah nama BAIT AL HIKMAH. Semoga nama ini memberi ruh bagi usaha ini. Pelan, mulai terkumpul buku-buku yang cukup untuk menjadikan ruang ini layak untuk disebut sebagai perpustakaan.
Semoga masih ada kesempatan bagi saya untuk membangun Bait Al Hikmah. Kesempatan untuk andil dalam membangun peradaban Islam.
Terinspirasi dari sejarah itulah, saya mendeklarasikan diri, ingin menjadi bagian dari manusia yang bekerja untuk mencetak manusia-manusia berjiwa pemimpin. Ruh yang dibangun adalah perjuangan, maka seluruh sisi paradigma dan kinerja saya tidak terlepas dari perjuangan untuk mencerahkan masyarakat ini menjadi umat. Namun, pertanyaannya sudah sejauh mana saya merancang diri untuk menjadi pemimpin yang tangguh di masa depan. Sudah sejauh mana saya mengagendakan pengembangan diri pada tahun, bulan, pekan, dan hari ini. Sejauh mana saya memiliki tradisi membaca dan menulis. Karena sesungguhnya tradisi inilah salah satu faktor penting yang akan mempercepat kedewasaan saya dan ”organisasi” pun akan terbantu dengan ilmu dan tradisi yang kita miliki.
Di sini, saya yang tidak lain juga telah menjadi bagian tak terpisahkan dari cita-cita tersebut, ingin mengawalinya dengan mendirikan sebuah perpustakaan sebagai wadah untuk merealisasikan impian tersebut.
Berawal dari keinginan kecil. Kemudian, terumuskan sebuah “ruang” mungil untuk memulai menata batu bata “rumah kebijaksaaan”. Terkumpullah beberapa buku-buku milik pribadi yang dibeli sedikit demi sedikit dari hasil tabungan pribadi untuk mengisi ruang mungil itu (yang masih menyatu dengan kamar) menjadi Rumah Kebijaksanaan. Ada juga beberapa buku hasil hadiah beberapa sahabat juga karena suatu prestasi tertentu (prestasi apa ya..).
“Saya perlu nama, untuk rumah ini?” dan terpilihlah nama BAIT AL HIKMAH. Semoga nama ini memberi ruh bagi usaha ini. Pelan, mulai terkumpul buku-buku yang cukup untuk menjadikan ruang ini layak untuk disebut sebagai perpustakaan.
Semoga masih ada kesempatan bagi saya untuk membangun Bait Al Hikmah. Kesempatan untuk andil dalam membangun peradaban Islam.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah mencipta manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al ’Alaq : 1-5)
“Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”
(QS. Al Baqarah : 269)
(QS. Al Baqarah : 269)
Obsesi mendirikan perpustakaan sebagai “Wahana referensi khazanah keIslaman dan data dakwah, menjadi bagian dari penumbuhan tradisi membaca dan menulis dikalangan masyarakat”.
Demikian gambaran tentang sebuah gagasan mengawali langkah menuju arah yang lebih baik. Keberadaan perpustakaan ini tidak lain merupakan ikhtiar saya untuk memberikan tawaran atas permasalahan mendasar yang, menurut saya, sejauh ini belum terpecahkan. Semoga kerja kecil ini dinilaiNya sebagai sebuah amal karena usaha dan kemanfaatannya bagi umat.
Wallahu a'lam bis showab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar