Kematian Adjie Massaid memang mengejutkan. Jujur saya sendiri jadi "takut" mati, karena merasa belum punya bekal apa-apa. "Kematian itu pasti, yang penting adalah bekal mati yang harus kita persiapkan", begitu kata om saya.
Masih mengutip kata-kata om saya,
walaupun kita sebenarnya tidak pernah akan siap untuk mati, tapi kita berharap mati dalam keadaan baik/khusnul saja, itu saya kira sudah cukup... sayangnya tidak semudah itu meraih mati yang baik, perlu pembiasaan agar saat maut menjemput bukan hal-hal yang tidak berkenan di mata Allah yang kita ucapkan....artinya simulasi akhlaq kita saat menghadapi maut nanti sangat perlu kita trim/latih/biasakan di saat kita masih hidup. Ini saya temukan sendiri dalam praktik sehari-hari. Contoh: kita bisa menilai akhlaq seorang ibu melahirkan apakah dia akan mati secara baik atau tidak (yah, ini hanya teori saya saja...). Bila dia saat melahirkan meneriakkan kata-kata yang ga senonoh alias semua nama penghuni kebun binatang keluar, yah kita bisa menilai kesehariannya....
Hehe...
Lagi-lagi, pagi-pagi udah diajak dzikrul maut. Semoga postingan sederhana ini mampu memberikan spirit bagi kita untuk selalu berusaha lebih baik.
Lagi-lagi, pagi-pagi udah diajak dzikrul maut. Semoga postingan sederhana ini mampu memberikan spirit bagi kita untuk selalu berusaha lebih baik.
MEMENTO MORI...!!!
