Total Tayangan Halaman

Minggu, 06 Februari 2011

MEMENTO MORI...!!!

Kematian Adjie Massaid memang mengejutkan. Jujur saya sendiri jadi "takut" mati, karena merasa belum punya bekal apa-apa. "Kematian itu pasti, yang penting adalah bekal mati yang harus kita persiapkan", begitu kata om saya.


Masih mengutip kata-kata om saya,
walaupun kita sebenarnya tidak pernah akan siap untuk mati, tapi kita berharap mati dalam keadaan baik/khusnul saja, itu saya kira sudah cukup... sayangnya tidak semudah itu meraih mati yang baik, perlu pembiasaan agar saat maut menjemput bukan hal-hal yang tidak berkenan di mata Allah yang kita ucapkan....artinya simulasi akhlaq kita saat menghadapi maut nanti sangat perlu kita trim/latih/biasakan di saat kita masih hidup. Ini saya temukan sendiri dalam praktik sehari-hari. Contoh: kita bisa menilai akhlaq seorang ibu melahirkan apakah dia akan mati secara baik atau tidak (yah, ini hanya teori saya saja...). Bila dia saat melahirkan meneriakkan kata-kata yang ga senonoh alias semua nama penghuni kebun binatang keluar, yah kita bisa menilai kesehariannya....
Hehe...

Lagi-lagi, pagi-pagi udah diajak dzikrul maut. Semoga postingan sederhana ini mampu memberikan spirit bagi kita untuk selalu berusaha lebih baik.

MEMENTO MORI...!!!

Sabtu, 05 Februari 2011

Kalau Bukan Aku, Siapa Lagi (??!)

Kulihat mereka di sana...

Sejak peristiwa Merapi, kontan hampir semua perhatian, tenaga dan pikirannya tersedot untuk membantu saudara-saudaranya. Apalagi posisi beliau sebagai koordinator tim. Beliau memiliki 4 anak, juga sedang menyelesaikan thesis. Sering diprotes juga oleh anak-anaknya karena terlalu sibuk, tapi beliau berusaha untuk tidak mendzolimi hak-hak anak-anaknya, juga suaminya.

Sempat terlintas di pikiran untuk cuti sejenak dari aktifitas sebagai koordinator Merapi untuk fokus ke thesis. Tapi kemudian teman-teman di sekitarnya sangat memberatkannya. Dipikir berkali-kali akhirnya beliau tetap menunaikan amanah yang telah dipercayakan kepadanya. Dan subhanallah, pertolongan Allah datang, thesis itu dilaluinya begitu mudah.

Saya sering berkoordinasi dengan beliau. Kadang-kadang ada saling mengeluh, juga tak jarang ada amarah karena overload. Saya pernah bertanya kepada beliau, "Kenapa ya saya sering mengeluh dan ngomel-ngomel sendiri?" "ya wajarlah Rie, kalau orang overload, itu manusiawi. Saya juga sering seperti itu. Dijaga amalan yaumiyyah-nya ya, karena itulah satu-satunya senjata yang kita punyai"

Saya jadi berfikir, mungkin saya begini karena amalan yaumiyyah saya buruk. Untuk sholat malam saja sering butuh perjuangan yang sangat keras, tidak seperti dulu yang begitu ringannya kaki ini melangkah. Kenapa saya jadi begini ya? Apakah terlalu banyak maksiat? Kalau terlalu capek sepertinya tidak juga, karena saya masih punya waktu yang longgar. Bisik saya dalam hati.

Satu lagi, seorang yang tidak diragukan kredibilitas dakwahnya, beliau cuti dari aktifitas meskipun teman-teman sekitarnya memberatkannya. Entah apa namanya, laptop beliau dan juga laptop suaminya yang berisi semua data-data termasuk thesis hilang di curi orang.

Sebenarnya tidak hendak membandingkan. Hanya mencoba meneladani mana yang baik dan sesuai kapasitas. Mencoba mengerti dan memahami apa yang terjadi di sekitar.

Ditengah-tengah tanggungan amanah yang ada, kadang suka terlintas dalam hati "Untuk apa aku melakukan semua ini, seperti tak ada untungnya buatku.." Godaan batin yang kadang juga berhasil membuatku gagal untuk melangkah menanggung amanah.


Tiba-tiba ingat seorang saudara yang selalu menguatkanku, Mencoba mengerti dan memahami.

Izinkan aku menangis kembali.

Entah kenapa rasa sayangku padamu semakin menjadi.
Kau benar-benar sudah seperti menjadi bagian dari keluargaku yang jika salah satu diantara mereka tertimpa cobaan dan ujian (baik fisik maupun hati), aku selalu merasakan keberatan yang juga hampir bisa menyamai..

Apalah artinya berbuat baik jika tidak dilandasi dengan niat yang ikhlas...

Itu kata-kata yang pernah dia ucapkan. Allah, sampaikan rasa rinduku kepadanya yang entah dimana.

Masih mengutip nasehat yang pernah dia sampaikan,

"Aku tau niat kamu baik, tapi bukan begini caranya.."

Kata-kata "begini" yang beliau maksud adalah dengan memaksakan usaha yang kita menganggap bahwa kita bisa melakukannya sendiri, padahal sejatinya akan menggerogoti diri kita sendiri, sedangkan masih banyak tuntutan amanah lainnya yang mengantri.

Kata-kata "kalau bukan aku, siapa lagi" juga disesuaikan kemampuan. Beberapa amanah yang mungkin "terpaksa" harus "ditinggalkan", memilih mundur bukan dengan maksud menghindar dari amanah dan tabungan pahala. Tapi karena melihat bahwa masih ada hal lain yang terlihat sederhana namun bisa berpotensi dakwah luar biasa di masa yang akan datang. Juga mempertimbangan beberapa poin yang sekiranya masih bisa diback up orang lain.

Mungkin tak jarang pihak yang memberi amanah menahanmu untuk mundur, mereka menilai bahwa kamu adalah yang termasuk istiqomah dengan amanah itu. Namun  mungkin  kamu bisa memberikan beberapa alasan konkrit juga menjelaskan tentang batas-batas yang bisa  kamu paksakan pada mereka.

Amanah pada ummat memang sebuah tuntutan yang besar.
Namun bukan berarti semuanya harus dicap "kalau bukan aku, siapa lagi."

Mungkin, langkah-langkah yang akan kamu ambil terlihat lebih mementingkan pribadi daripada amanah, tapi justru di sana titik beratnya.
Amanah di masa depan lebih berat dan lebih membutuhkan gelar, begitu juga salah satu nasihat yang diberikan oleh kakak saya.

Dan lagi-lagi sang saudara yang luar biasa itu menyampaikan kalimat pedasnya :

"Ngurusi diri sendiri aja masih keteteran, kok udah (gaya) mikirin orang lain."

Sampai kapan dilema ini akan berakhir, begitu kata Fajar
*Di tengah kelelahan, masih banyak hal yang harus dikejar dan diselesaikan