Total Tayangan Halaman

Sabtu, 25 Desember 2010

Adab Interaksi Sosial dalam Kehidupan Muslim

Manusia adalah makhluk sosial, yang tak bisa hidup seorang diri, atau mengasingkan diri dari kehidupan bermasyarakat. Dengan dasar penciptaan manusia yang memikul amanah berat menjadi khalifah di bumi, maka Islam memerintahkan ummat manusia untuk saling ta’awun, saling tolong-menolong, untuk tersebarnya nilai Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Manusia selalu memerlukan orang lain untuk terus mengingatkannya, agar tak tersesat dari jalan Islam. Allah SWT mengingatkan bahwa peringatan ini amat penting bagi kaum muslimin.
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (Adz Dzariyat: 55)

Bahkan Allah SWT menjadikan orang-orang yang selalu ta’awun dalam kebenaran dan kesabaran dalam kelompok orang yang tidak merugi hidupnya. (QS: Al Ashr: 1-3). Maka hendaknya ummat Islam mengerahkan segala daya dan upayanya untuk senantiasa mengadakan perubahan ke arah kebaikan, pada masyarakat dengan memanfaatkan peluang, momen yang ada.

Adapun, terkait dengan itu semua, ada juga beberapa adab yang hendaknya dipegang oleh setiap muslim.

Adab dengan saudara seperjuangan
a.    Husnudzon dan memohonkan maaf pada mereka.
b.    Menampakkan cinta pada mereka dan menahan marah karena kelalaian mereka.
“…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (Ali Imron:134)
Manusia adalah tempatnya salah dan lalai, baik diri kita maupun saudara kita tak luput dari sifat itu. Adalah tidak adil jika kita memarahi saudara, apalagi memutuskan hubungan dengannya ketika lalai. Justru yang paling baik adalah dengan menesihatinya. Setinggi-tinggi martabat pergaulan adalah dengan tetap menjalin kasih sayang baik ketika lalai maupun ingat. Seperti itulah salah satu ciri kehidupan masyarakat muslim.
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” (Al Fath:29)
Bahkan kadang kala kecintaan itu kita ikrarkan. Abu Kuraimah bin Ma’diy Karib Ra berkata; Bersabda Rasulullah SAW: “Jika seorang mencintai saudaranya, maka beritahukanlah kepadanya bahwa ia mencintainya karena Allah” (Abu Dawud). Sedangkan anjuran untuk menahan marah cukuplah nasihat Rasulullah SAW ketika seseorang datang kepada beliau dan berkata: “Nasihatilah saya”, kemudian Nabi SAW bersabda: “Jangan marah”, kemudian orang itu meminta mengulangi nasihat lagi, jawab Nabi :“Jangan marah” (HR Bukhari). Marah itu menghimpun berbagai kejahatan dan setiap kejahatan membawa dosa, sedangkan menahannya adalah menangkal dosa yang berarti memetik pahala surga. Muadz bin Anas berkata: Bersabda Rasulullah SAW: ”Siapa yang menahan marah padahal ia mampu memuaskannya, maka kelak di hari kiamat Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk, kemudian disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi).

c.    Mendo’akan mereka ketika ghaib
“Mintalah ampun untuk dosamu sendiri dan untuk kaum muslimin lelaki dan perempuan
(Muhammad: 19)
Wujud ukhuwah Islamiyah yang telah dibina Rasulullah SAW ketika periode hijrah sangat nyata, bukan seruan bibir semata. Mereka saling mengutamakan kebutuhan saudaranya yang baru dibina itu Mereka saling memberikan harta bahkan jiwanya untuk sebuah persudaraan karena Allah SWT. Mereka juga memberikan do’anya. “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman” (Al Hasyr: 10)
Abu Darda’ RA berkata, bersabda Rasulullah SAW: “Do’a seorang muslim untuk saudaranya di luar pengetahuan yang dido’akan itu do’a yang mustajab, di atas kepala orang yang berdo’a itu ada Malaikat yang ditugaskan supaya tiap ia berdo’a baik untuk saudaranya itu supaya disambut: amin wa laka bi mitslin (semoga diterima dan untukmu sendiri seperti itu)” (HR. Muslim).

d.    Bantulah saudaramu baik dalam kondisi mendzolimi atau terdzolimi, yaitu mencegah kejahatannya.

e.    Mengakui pertolongan mereka baik dalam senang atau duka sebagai ungkapan bahwa kekuatannya (baca:kita) tidak mungkin bergerak sendiri dalam kehidupan.

f.    Tidak suka mencelakakan mereka dan bersegera untuk menghilangkannya/ menolak.

g.    Mempermudah urusan-urusan yang sulit.

Salah satu dari ciri seorang muslim adalah suka mempermudah segala urusan yang dialami saudaranya. “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan” (Al Baqarah:185)
“Ajarilah olehmu dan mudahkanlah olehmu dan jangan kamu mempersulit, dan jika salah seorang di antara kamu ada yang marah, maka hendaklah kamu diam” (HR. (Bukhari).

Dari Ummul Mu’minin RA: “Jika menghadapi dua perkara, Rasulullah akan memilih yang termudah, jika kiranya tidak mengandung dosa. Maka jika urusan itu mengandung dosa, seluruh manusia harus menjauhinya. Dan apa yang menjadi pendirian Rasulullah SAW dalam menghadapi sesuatu, ialah tidak membalas dendam kepada siapapun jika yang disakiti itu hanya dirinya sendiri, kecuali jika larangan Allah telah dilanggar, maka beliau akan marah, dan membalasnya semata-mata hanya karena Allah” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Abu Qatadah RA berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW berkata, ”Barangsiapa yang memudahkan kesulitan muslim lainnya, untuk mendapatkan keselamatan dari Allah dari kesulitan-kesulitan hari kiamat, maka mudahkanlah kesulitan (orang lain) atau melepaskan bebannya” (HR. Muslim).

h.    Memberikan nasihat.

Tak tersisa dalam hidup ini kecuali tiga kelompok: Seorang dimana kamu mendapatkan bergaul/ma’asyaroh dengannya, kalau kamu menyimpang dari jalur dia meluruskanmu, dan dia memberikan cukup kehidupanmu, tidak ada seorang yang bisa membebanimu, dan sholat di masjid jami’ kamu terhindar dari lupa padanya dan mendapatkan penghalang. (Perkataan Hasan Al Bashri).
Dan berkata Al Muhasibiy, “Ketahuilah orang yang menasihatimu sungguh dia mencintaimu, dan barangsiapa yang menjilat kamu maka dia menipumu/mengujimu, dan siapa yang tak menerima nasihatmu bukanlah saudaramu”.

Adab dengan murabbi (pendidik)
a.    Penghargaan dan memuliakan mereka karena Allah SWT telah menjadikan mereka sebab masuknya kalian ke dalam bintang yang besar (jama’ah) meskipun kalian mendahuluinya.

Adab dalam bergaul dengan murobbi adalah dengan memuliakannya karena Allah SWT, memohonkan do’a bagi mereka. Karena mereka adalah orang-orang sholeh yang telah meghantarkan kita ke jalan Allah SWT. Tidak diperkenankan bagi kita untuk mencelanya, membesar-besarkan keburukannya dan berpaling bahkan membutakan diri dari kebaikan-kebaikan yang telah kita terima. Kita hendaknya bersabar dalam berjuang bersama-sama mereka, tidak terprovokasi oleh orang-orang hendak yang menjerumuskan, melemahkan atau membelokkan arah jalan da’wah kita, misalnya ada yang sering mengatakan kita dengan eksklusif, taqlid buta, jumud, tarbiyah tak akan mendapatkan apa-apa dan bukan segalanya untuk apa diteruskan, dan suara-suara miring lainnya. Ingatlah firman Allah SWT.
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang yang menyeru Rabb-nya di pagi hari dan senja hari dengan mengharap ridha-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan mereka adalah kaum yang melampaui batas” 
(Al Kahfi:28).

Dahulu kita dalam keterpurukan jahiliyah, dan sekarang tampak kemilau cahaya keislaman, kemudian memasukkan kita ke dalam sebuah gerakan besar, mewujudkan segala potensi yang selama ini terpendam, serta mengikatnya dengan jalinan ruhul islami.

“Manusia itu ibarat barang tambang seperti logam emas dan perak, terpandangnya mereka ketika masa jahiliyah akan terpandang juga ketika masa islamnya, jika mereka telah memahami. Adapun ruh-ruh itu ibarat laskar tentara yang siap tempur, maka yang saling mengenal akan intim, sedangkan yang tidak mengenal akan berceceran” 
(HR. Bukhori dan Asy Syaikhoni)

Siapakah yang mengasah dan membentuknya ke arah itu? Adalah para murobi tercinta!
b.    Sesungguhnya mereka bukan ustadz-mu dahulu saja, maka jangan kalian putus mereka, dan hormatilah mereka serta keluarga mereka untuk di ziarahi.
c.    Terus menerus menyebut kebaikan mereka dan melupakan keburukan mereka.

Tak hanya dengan sesama muslim, dengan orang-orang nonmuslim juga diatur dalam Islam. Subhanallah, betapa sempurnanya Islam. Mengatur seluruh kehidupan manusia mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Tak ada yang terlewat satupun.
Wallahu a’lam

*dari berbagai sumber

1 komentar: