Total Tayangan Halaman

Rabu, 16 Maret 2011

Jangan Pernah Lelah Kawan!

Penolakan, cemooh, cibiran, pujian dan sebagainya mungkin sudah menjadi menu harian bagi seorang da'i. Ketika mendapatkan penolakan, cemooh, cibiran, bahkan mungkin fitnah maka bersabarlah. Fashbir shobron jamiil. Begitulah dakwah. Bahkan orang yang sudah menjadi bagian dari hidup kita bukan tidak mungkin menjadi "penghalang" dari dakwah ini, dakwah kepada keluarga itu termasuk dakwah yang "paling sulit". Ketika nasehat-nasehatmu, sikap-sikapmu dianggap lain oleh mad'u, bersabarlah. Sabar sabar sabar.. senjata ampuh bagi da'i. Ketika mendapat pujian, maka janganlah menjadi riya', pujilah Allah, dan bersyukurlah kepadaNya, karena pada hakekatnya semua itu tidak akan terjadi tanpa kehendak dan kekuatan dariNya. Semoga pujian-pujian itu tidak menjadi "penghancurmu".

“Apakah kalian mengira akan dibiarkan begitu saja, padahal belum terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuan diantara kalian?” (QS At Taubah (9):16)

Ketika Jalan Dakwah adalah sebuah pilihan, maka jangan bertanya kapan pengorbanan akan berakhir. Jalan da'wah itu jauh lebih panjang daripada umur kita. Dan apakah kita siap untuk terus berkorban? Maka persiapkanlah semuanya, sembari terus mohon pertolonganNya. Sepanjang kita ridlo pada jalan dakwah itu maka pengorbanan itu terasa indah dan menyenangkan. Terlibatlah dalam aktivitas dakwah apapun yang bisa kamu lakukan tanpa harus kehilangan status sebagai rakyat biasa, karena dakwah tak mengenal status sosial.

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi. Kemudian baru orang-orang yang lebih rendah derajatnya, berurutan secara bertingkat. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Jika ia kuat dalam agamanya, maka ujiannya sangat berat. Dan jika lemah agamanya, maka ia akan diuji Allah sesuai tingkat ketaatannya pada agamanya. Demikianlah bala’ dan ujian itu senantiasa dilimpahkan kepada seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi tanpa dosa apapun.”(HR. Tirmidzi)

Rabu, 09 Maret 2011

Episode Lari-Lari

Lama nian saya tidak menuangkan ekspresi dalam bentuk tulisan. Biasanya saya menorehkannya di multiply, alias MP. Namun sudah sekitar sebulan ini saya meninggalkannya.

Hari ini, serasa menjadi mahasiswa yang sedang aksi, lari sana lari sini. Mengejar waktu, kejar deadline, sampai-sampai beberapa SMS dan telepon yang masuk terpaksa terabaikan, ataupun telat membalas. Hufft... berlari menyusuri sepanjang jalan Gejayan, ditemani tas kamera warna  hitam (tas pinjeman dan gak ada kameranya), dan sendal kesayangan, sendal gunung, baru loh, biar bisa lari-lari, haha.. *norak*. Kupacu kakiku untuk terus berjalan, setengah berlari, ataupun berlari. Sangat menikmati.. tubuh ini terasa sangat ringan dan tak ada rasa capek sedikitpun. Yang ada dalam pikiran, bahwa saya harus menyelesaikan semuanya sebelum kamis malam.

Namun beberapa planing hari ini berubah. Harapan untuk menghadiri rapat PH Salimah yang sudah sebulan tidak saya hadiri terpaksa hari ini terlewatkan lagi, karena masih harus berkutat dengan design-design amunisi ke Rakornas kemudian  berkencan ria di percetakan.

Pukul 17.30 baru bisa pulang dari kencan. Berlari ke lokasi rapat dengan harapan bisa bertemu dengan ibu-ibu hebat, ternyata sampai di lokasi sepi, gak ada orang. Apakah rapatnya dipindah? Sang partner saya hubungi berkali-kali gak di angkat, di SMS juga tidak berbalas. Hanya bisa berkhusnudzan, mungkin rapat sudah selesai dan masing-masing sedang dalam perjalanan kembali ke istana masing-masing. Dan ternyata benar, hehe...
Berharap semoga lain waktu bisa ikut :D

Apa kabar ibu-ibu semua? Saya sangat merindukan kalian. Sudah sebulan tidak bisa bersua dengan kalian, hanya lewat SMS saja. Eh nggak ding, kemarin ketemu di Merapi. Tapi saya sangat merindukan rapat itu. Hehe...

Pulang dari lokasi rapat, melihat langit Jogja begitu indah. Ingin mengabadikannya dalam sebuah jepretan, namun sayang, kamera masih di toko, hehe... *Ngiler kamera DSLR, semoga segera terwujud, 'aamiin... :D

Ibu-ibu, semester ini adalah semester terakhir saya. Mohon doanya ya ibu-ibu, semoga Bolung nan baik hati dan imut ini *narsis dikit* diberikan kemudahan dan kekuatan serta keistiqomahan untuk menyelesaikan semuanya. Sampai kebawa-bawa mimpi. Hehe... Ingin mencontoh bu Awie yang berhasil menyelesaikan thesisnya di tengah huru hara Merapi. SubhanaLLah... saya diajari untuk "mencuri" waktu dong bu, hehe...

Maaf ibu-ibu, hanya ingin menyampaikan apa-apa yang sedang dirasakan saat ini saja.

Aniway, lari-lari ini membuat BBku  turun gak ya? Moga-moga aja, haha...
*jadi ingat SMS-an saya sama bu Retna sang partner keren :D

Ohya buat mba Nina.. Huaaaa... dikau mau meninggalkan Jogja, hiks hiks hiks... kapan kita kencan nich mbak? Sebelum dirimu pergi :'(

Nobar "Rumah Tanpa Jendela" aja yuuukkk :D

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Terbang bebas, bermain di atas awan...
*Khayalan tingkat tinggi

Sabtu, 05 Maret 2011

Hati yang Selamat

Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., "Manusia manakah yang paling mulia?" Rasulullah saw. menjawab, "Setiap yang bersih hatinya dan benar lisannya." Mereka bertanya, "Kami sudah mengetahui lisan yang benar, lalu apakah hati yang bersih?" Rasulullah menjawab, "Yaitu orang yang bertakwa, yang bersih, yang tidak ada dosa, kezaliman, dendam, dan dengki di dalamnya."
(HR Ibnu Majah). 

Islam menekankan agar seorang muslim memiliki hati yang bersih (salamatus sadr). Yaitu, hati yang di dalamnya tidak ada rasa iri, dengki, dan dendam kepada muslimin lainnya. Hati yang bersih adalah nikmat yang diberikan Allah kepada penduduk surga. Allah SWT berfirman yang artinya, "Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipannya.". (Al-Hijr: 47). Antara penduduk surga yang satu dengan yang lainnya tidak ada rasa dendam dalam hati mereka.

Salamatus sadr juga merupakan akhlak dari orang yang berilmu. Para ulama menyebutkan akhlak orang berilmu itu di antaranya adalah tidak menjilat, tidak mencela, tidak sombong, tidak dengki, tidak iri, tidak dendam, tidak melaknat, dan menjauhkan diri dari berprasangka buruk kepada mukmin lainnya.

Mewujudkan salamatus sadr bukanlah perkara mudah. Hal yang mendukung ini adalah kisah sebagaimana dituturkan Anas bin Malik r.a., "Kami tengah duduk bersama Rasulullah saw. Lalu beliau bersabda, 'Akan muncul di hadapan kalian seorang dari penduduk surga.' Setelah itu muncullah seorang lelaki Anshar sembari merapikan jenggotnya karena habis berwudu, sementara tangan kirinya membawa sandal."

Pada hari berikutnya, sebelum lelaki tersebut datang, Rasulullah bersabda dengan sabda yang serupa. Begitulah yang juga terjadi pada hari yang ketiga. Hal ini membuat Abdullah bin Amr bin Ash r.a. merasa penasaran, apa kiranya yang membuat lelaki tadi selama tiga hari berturut-turut dikatakan Rasulullah saw. sebagai penduduk surga.

Abdullah bin Amr bin Ash kemudian meminta izin kepada lelaki tersebut untuk bermalam di rumahnya selama tiga hari. Beliau ingin melihat apakah yang dikerjakan lelaki tersebut sehingga mendapat predikat penduduk surga. Ia tidak melihat lelaki tersebut bangun malam kecuali apabila ia membalikkan tubuhnya ia berzikir kepada Allah dan bertakbir sampai ia bangun untuk melaksanakan salat fajar. Abdullah r.a. berkata, "Saya tidak pernah mendengar ia berbicara, kecuali yang baik."

Setelah tiga malam berlalu, Abdullah r.a. berkata, wahai hamba Allah .... selama tiga hari berturut-turut saya mendengar Rasullah bersabda tentang dirimu dengan mengatakan, "Akan muncul kepada kalian seorang dari penduduk surga." Karena itu, aku bermalam bersamamu selama tiga hari untuk melihat apa yang engkau lakukan, tetapi aku tidak melihatmu melakukan amal yang banyak, lalu apakah yang engkau lakukan sehingga disebut Rasulullah sebagai penduduk surga? Lelaki itu menjawab, "Tidaklah ia kecuali apa yang engaku lihat." Lalu ketika saya berpaling ia memanggilku, "Tidaklah ia kecuali yang engkau lihat, hanya saja aku tidak mempunyai rasa iri dengki kepada siapa pun dari orang muslim yang mendapatkan kebaikan dari Allah Taala. Abdulah bin Amr bin Ash berkata, "Sifat inilah yang menyampaikanmu kepada kedudukan yang tinggi dan inilah yang sulit dilakukan orang-orang."

Salamatus sadr adalah unsur penting dalam membangun persaudaraan sesama muslim (ukhuwah islamiyah). Dan, inilah yang telah dicontohkan oleh kaum Muhajirin dan Anshar. Sebagaiman Allah berfirman, "Dan mereka (orang-orang anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang Muhajirin)." (Al-Hasyr: 9).

Maksudnya, orang-orang Anshar tidak merasa hasad (dengki) kepada kaum Muhajirin yang mendapatkan keutamaan dari Allah dalam kemuliaan dan kedudukannya dibanding kaum Anshar. (Tafsir Ibnu Katsir 4/304). Wallahu a'lam.

Ikhtiar bersyukur kepada orang tua

 "pekerjaan dakwah itu tidak akan ada habisnya, mbak.. kalo mo ngerjain skripsi dulu bilang aja lho, nanti biar kita kurangi beban2 mb tari" begitu kata bu Dyah, sang ketua Salimah DIY. Maka, seketika itu pula, mataku mbrebes mili.

ya Rabb, aku tau... Perintah bersyukur kepada-Mu itu  diiringi dengan perintah bersyukur kepada orang tua.., menyenangkan hati kedua orang tua (dalam batas tidak dalam rangka maksiyat kepada ALLAH) adalah amal besar yang utama....

Aku perlu bimbingan langsung dari-Mu ya ALLAH, untuk bisa melaksanakannya...

-- ROBBI AWZI'NIY AN ASYKURO... (Al-Ahqof 15).

*berfikir akan resign dari pekerjaan (bukan amanah dakwah lho ya), hehehe...

Selasa, 01 Maret 2011

Kesederhanaan dalam Kemewahan

Kesederhanaan yang membahagiakan...

Sekitar seminggu lebih hidup "mewah". Mewah karena tak biasa, dan mewah tak sembarang mewah, tapi ada alasan yang melingkupinya. Kami harus bekerja keras siang malam, tak jarang pula waktu untuk istirahat kita relakan terenggut, karena agenda yang akan kita lakukan bukanlah agenda kecil, tapi agenda besar untuk peradaban Indonesia. 

Menu makan tidak seperti biasanya, kali ini gizi lebih diperhatikan. Bahkan kami juga "terpaksa" harus menginap di hotel mewah, entah bintang berapa. Yang kutau, hotel itu adalah hotel berkelas di Jogja. 
Dulu saya menganggap, tinggal di hotel mewah hanyalah sebuah mimpi di siang bolong. Tapi Allah berkehendak lain. Saya tinggal disana tanpa keluar uang sepeserpun. Ini membuktikan bahwa, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak. 

Di awal-awal sempat senang, apa-apa dilayani, dan menu makan pun variatif, lumayan untuk perbaikan gizi, pikirku (maklum, orang desa yang tidak punya cukup uang untuk tinggal di hotel mewah). Tidur pun enak, nyaman. Berbagai bayangan yang enak-enak mampir di pikiranku.

Namun, saya hanya merasakan kenikmatan dari semua kondisi itu beberapa saat saja. Bukan masalah pekerjaan yang memang harus dikerjakan dengan konsentrasi penuh dari pagi hingga tengah malam, kejar deadline, dan sebagainya. Sama sekali bukan karena itu. Tapi ada hal lain... Entah kenapa, di tengah semua kemewahan itu saya sangat merindukan kesederhanaan. Pikiran saya melayang-layang, teringat kehidupan rasulullah dan para sahabat, juga kehidupan sebuah keluarga yang akhir-akhir ini mampir di kehidupanku. 

Saya begitu merindukan tempe, begitu merindukan kamar yang sederhana namun nyaman, begitu merindukan kehidupanku yang sederhana. Sampai-sampai, ketika saya menyampaikan apa yang saya rasakan itu, beberapa teman saya tertawa. Mungkin aneh.. tapi saya benar-benar merindukan itu.

Terlepas dari semua kerinduan akan kesederhanaan, saya menemukan banyak pelajaran di dalamnya. salah satunya, tentang latihan untuk menjadi orang "kaya" yang tetap bersahaja

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Aku memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar (Umar bin Khattab)







Bersyukur Atas Ketidaksempurnaan

“Aku bersyukur karena tidak memiliki semua yang kuinginkan, jika aku memiliki semuanya, apalagi yang hendak kucari?”  Seandainya aku memiliki semua yang kuinginkan, maka bisa kubayangkan bahwa hidupku akan hampa, tanpa perjuangan. Betapa hidup itu tidak akan mengajariku apapun. Jadi bersyukurlah atas apa yang tidak kita punyai, karena dengan begitu kita akan berjuang. Sesuatu yang kita dapatkan atas perjuangan sendiri itu akan jauh terasa lebih nikmat wlaupun mungkin hasilnya jauh dari harapan.

“Aku bersyukur saat aku tidak mengetahui sesuatu, karena itu memberi kesempatan kepadaku untuk belajar.” Maka jangan pernah minder ketika kita tidak tahu sesuatu. Cari tahulah, belajarlah, dan jangan pernah ragu untuk bertanya pada orang yang lebih tahu. Janganlah kita membatasi diri dalam belajar. Semua yang ada di dunia ini, semua yang diciptakan Allah penuh pembelajaran. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari orang tua, dari kawan kita, bahkan dari anak kecil, dari bayi, dari hewan yang mungkin bagi kita itu sangat menjijikkan. Jangan pernah merendahkan orang lain. Yakinlah, buka pikiran, open your mind, ambillah yang positif.

“Aku bersyukur atas masa-masa sulit  yang aku hadapi, karena selama itulah aku tumbuh menjadi dewasa.” Jangan terburu-buru terpuruk ketika masa sulit menghampiri.Jadikan masa-masa sulit sebagai media bagi kita untuk membangkitkan energi yang hilang. Ingat… bahwa Allah tidak akan membebani hambaNya di luar batas kemampuannya. Pikirkanlah dengan otak yang dingin dan hati yang tenang. Hati yang tenang itu lebih bisa cepat menyelesaikan permasalahan dari pada hati yang “grusa grusu”. Yakinlah…. Aku sudah membuktikannya! Bersyukurlah karena kita masih diberi kesulitan oleh Allah, karena itu artinya Allah masih sayang kita. Bukankah ujian itu adalah tarbiyah dari Allah? Masa-masa sulit itulah yang juga akan menguji keimanan seorang muslim.

“Bersyukur atas keterbatasan yang aku miliki, karena hal itu memberi aku kesempatan untuk memperbaiki diri.” Aku tidak bisa membayangkan, seandainya hidupku sempurna, bukan kebahagiaan yang aku dapatkan, tapi sangat mungkin aku mendapatkan kehampaan. Menjadikan keterbatasan sebagai peluang. Dari sanalah kita akan terus, dan terus memperbaiki diri. Bersama saudara seperjuangan, saling menasehati, saling mengingatkan atas kealpaan…. Dan jangan sungkan-sungkan untuk minta kritikan dari teman-teman kita, karena dari sinilah kita akan memperbaiki diri. Teman sejati bukanlah teman yang selalu memuji, tapi dia adalah teman yang memuji ketika benar, dan meluruskan ketika kita bengkok. *jadi rindu temen2 LQ*

“Bersyukurlah atas setiap tantangan baru, karena hal itu akan membangun kekuatan dan karakterku” Belajarlan untuk menyukai tantangan, karena dari sanalah kemudian kita dituntut untuk terus belajar belajar, dan terus belajar. Kita di tempa. Bagaimana kita menyikapi tantangan baru tersebut, dari sana akan  terlihat bagaimana seberapa besar kekuatan kita, dan bagaimana karakter kita. Dan sungguh benar, tantangan itu akan semakin menguatkan karakter.

“Bersyukurlah atas ketidaksempurnaan yang kita miliki.” Karena dari sinilah kita akan terus berproses untuk menjadi sempurna. Tataplah ke depan, jangan terpusat pada masalah, fokuslah pada solusi.

Ingatlah kawan, bahwa baik buruk, susah senang, sedih bahagia, semuanya dari Allah. Bukankah tidak ada yang sia-sia dari-Nya? Semuanya penuh hikmah, semuanya penuh pembelajaran. Carilah hikmah dan pembelajaran itu, lalu ambillah. Ucapkan Hamdallah, dan tetaplah tersenyum tuk songsong masa depan yang indah ^^

Jika pun hidup kita berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Yakinlah hari-hari kemudian akan lebih baik dari hari-hari sekarang dan hari-hari yang telah lalu. Berprasangka baiklah Allah SWT akan memberikan karunia dan rahmat yang besar di hari-hari esok, dan JANGAN BERPUTUS ASA!

By : Bocah Ulung

Semoga setiap detik yang kita lewati senantiasa dipenuhi rasa syukur terhadap apa yang telah DIA berikan…