Total Tayangan Halaman

Sabtu, 30 Juli 2011

Menikmati Setiap Detik Permasalahan Hidup

Perlahan mulai bangkit kembali, setelah lebih dari 2 bulan terakhir mengalami stress yang cukup hebat karena beberapa hal, hingga membuat fisik saya benar-benar down, tapi Alhamdulillah masih selalu diberikan kekuatan ruhiyah. Pelan-pelan, sedikit demi sedikit, benang kusut mulai terurai, perlahan jalan itu tampak terang.

Sempat benar-benar terpuruk, amanah-amanah terbengkalai tanpa kejelasan, rasanya sudah hampir putus asa. Kembali merenung, mencoba mengaplikasikan apa-apa yang saya pahami, berdialog dengan hati, berdialog dengan Allah, mentafakkuri apa-apa yang telah Allah firmankan, mencoba mengaplikasikan dalam hidup. Dan perlahan buliran-buliran itu terus mendesak untuk keluar, energi baru seolah merasuki tubuhku.

Masalah, setiap orang pasti selalu berhadapan dengannya. Masalah tanda kehidupan, dan diam-diam saya sangat bersyukur atas semua masalah yang Allah hidangkan di hadapan saya. Laayukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa.. Allah tidak membebani hamba-Nya melainkan sesuai kesanggupannya. Saya sangat yakin akan hal itu.

Pasti bisa melewati semuanya, pasti mampu menghadapi semuanya, pasti kuat, insyaAllah. Masalah itu bukan beban, bukan kesulitan, dan bukan pesimisme. Tapi masalah adalah tantangan, motivasi, dan optimisme! Masalah adalah salah satu cara Allah untuk mendewasakan dan meninggikan derajat hamba-Nya. Saya harus lulus!

Kembali saya tersenyum melihat diri saya. Betapa lemahnya diri ini. Di luar sana, masih banyak orang-orang yang diuji jauh lebih berat dari saya, di luar sana ada banyak orang yang menunggu saya, di luar sana ada banyak orang yang membutuhkan saya. Entah ini terlalu PD atau apa, saya tidak begitu mengerti. Yang saya tau, saya mempunyai tugas untuk menguatkan saudara-saudara di sekitar saya, saya harus terus dan tetap berbagi dengan sekitar, bagaimanapun kondisi saya, inilah salah satu prinsip hidup yang saya pegang. Khairunnaas... Anfa'uhum Linnaas - Sebaik-baik manusia diantara kalian adalah yang paling banyak memberi manfaat untuk sesama. Dan saya merasakan sesuatu yang luar biasa, ternyata dari sinilah kemudian Allah memberikan energi lagi, menunjukkan berbagai celah atas permasalahan yang ada. Subhanallah…

Kembali bangkit, membenahi semua yang harus dibenahi, memenej semua aktifitas agar tetap imbang, menunaikan hak saudara-saudara yang sempat terlalaikan. Allah, beri kekuatan kepada hamba untuk menghadapi semuanya..

Wallahu a’lam

Kamis, 26 Mei 2011

Di Antara Dua Jalan

Jika jalan keburukan itu selalu tampak ditaburi dengan bunga-bunga indah, maka jalan kebaikan juga demikian adanya, bahkan lebih indah. Jalan keburukan tampak lebih mempesona karena jalan itu mendatangkan kenikmatan instan, itu sebabnya manusia akan cenderung mudah mengikuti jalan itu, apabila nafsunya lebih berkuasa.

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (QS Asy Syams : 8)

Namun fenomena itu tidak melulu berlaku, terlebih buat orang-orang yang telah meng'azzamkan dirinya terus istiqomah di jalan kebaikan. Dia akan selalu berusaha sekuat tenaga bertahan dengan prinsip-prinsipnya, karena dia sadar akan jalan yang dia pilih itu. Onak dan duri yang merintangi jalan itu selalu dia nikmati. Manis, lebih manis dari madu malahan, tak bisa terdefinisikan. Itu yang dia rasakan, meski tak jarang air mata sering mampir di wajahnya, tapi dia begitu menikmati sajian-sajian itu. Subhanallah, indahnya...

Kemudian apabila kamu telah ber-'azzam (membulatkan tekad), maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S. Ali-Imron : 159)

'Azzam saja tak cukup, butuh ikhtiar-ikhtiar yang akan mengantarkan kita pada keistiqomahan. Tak banyak yang mampu bertahan di jalan kebaikan itu, kebanyakan mereka tumbang di lapangan. Semua itu, cukup dijadikan pembelajaran bagi kita, agar tidak menjadi bagian dari yang tumbang itu.

Menuntut ilmu lalu mengamalkannya, adalah salah satu jalan untuk istiqomah. Namun itu saja tidak cukup, masih ada satu hal lagi yang tak kalah pentingnya, yaitu menyampaikannya/mengajarkannya kepada orang lain. Mengajak orang menulis, membuat diri jadi lebih semangat untuk menulis. Mengajak orang belajar, membuat diri lebih semangat untuk belajar lebih banyak lagi. Mengajak orang berbagi, membuat diri lebih semangat untuk terus berbagi...

Dan semangat menyampaikan itu tidak boleh kendur karena khawatir 'kaburo maqtan'. Jika semua takut, tak akan ada yang berdakwah.. Maka, jadikan ucapan itu sebagai motivasi. Karena semua butuh proses!

Dari Abu Amr, -ada juga yang mengatakan- Abu ‘Amrah, Suufyan bin Abdillah Ats Tsaqofi radhiallahuanhu dia berkata, saya berkata : Wahai Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, katakan kepada saya tentang Islam sebuah perkataan yang tidak saya tanyakan kepada seorangpun selainmu. Beliau bersabda: Katakanlah: saya beriman kepada Allah, kemudian berpegang teguhlah. (Riwayat Muslim).

Link : KLIK

Senin, 25 April 2011

Jangan Berlebihan, Ini Baru Awal

Alhamdulillah, kerja keras temen-temen kru Madani Cyber Media mulai kelihatan hasilnya. Kelelahan siang malam begadang tak terasa sedikitpun ketika melihat hasil yang diperoleh. Dan dengan mengucap BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAAHIIM serta dengan mengharapkan ridho Allah, situs fimadani.com -Bersatu dalam Bingkai Madani-, pada hari ini, Selasa, 26 April 2011 pukul 10.05 resmi di launching. Selamat berjuang kawans, semoga istiqomah!
ALLAHU AKBAR!!!




twitter : fimadani
FB : fimadani

~Dan air mata ini pun masih saja membanjiri wajahku~

Selasa, 19 April 2011

... Tanpa Judul

Banyak sekali yang ingin ditulis, tapi entah kenapa tiap kali mau menulis, rasanya lalu lintas mendadak macet. Sejak memutuskan untuk meninggalkan empe, produktifitas menulis saya memang menurun drastis.

Aaaaarrggghh..!!
Saya ingin menulis kembali, bukan  sekedar menulis curhatan, tapi saya ingin menulis sesuatu yang bisa bermanfaat.

Selasa, 12 April 2011

Menjaga Semangat Beramal

Beberapa kali merekrut pasukan, namun beberapa kali kelabakan. Selalu mencari mencari dan mencari. Apa yang salah? Berbagai pelatihan kami lakukan, yang respon banyak, yang mengikuti pelatihan juga banyak, namun yang terjun ke lapangan bisa di hitung jari, atau bahkan terjadi 4L, Loe Lagi Loe Lagi.

Mencoba mencari strategi lain, mengikatnya, menjadikannya koordinator mungkin, namun tak jarang juga cara ini tak mempan. Lagi-lagi terjadi 4L. Ketika saya mencoba bergerilya sendiri, menawarkan proyek peradaban, banyak yang tertarik. Alhamdulillah, senyum sumringah terpancar dari hati. Follow up pertama masih antusias dan menggembirakan, tapi semakin hari semakin menghilang, dan pada akhirnya yang mampu bertahan adalah orang-orang lama.

Hal inilah yang pada akhirnya membuat saya enggan untuk kembali mencari pasukan baru. Tapi saya selalu berusaha untuk huzh-nuzhan, barangkali memang ada amanah lain yang menuntut untuk diprioritaskan. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Tapi yang saya sayangkan, kenapa TIDAK ADA KOMUNIKASI? Padahal setan-setan selalu bergentayangan, terus menggoda manusia. Dan tak jarang pula fenomena ini membuat saya jengkel! Astgahfirullahal 'adziim

Tapi saya pikir lagi, daripada hanya menggerutu tidak jelas, lebih baik lakukan yang jelas-jelas saja, bekerja dengan orang  yang jelas-jelas saja. Sebuah hiburan buat diri sendiri yang tidak buruk kupikir. 

"..Apakah kamu mengira Kami akan membiarkan kamu berkata 'kami beriman' sedangkan kamu belum diuji?.."

***

Kejenuhan sebenarnya tidak terjadi karena aktifitas harian kita yang monoton saja, tapi semangat yang menggebu-gebu dengan amal yang mengebu-gebu pula tanpa disertai kontinuitas. Inilah sebenarnya penyebab kejenuhan yang melumpuhkan hingga akhirnya stagnan.

Minggu, 10 April 2011

[Edisi Special] Ketika Para Fans Mendatangiku

Beberapa hari keok lagi dah, padahal perasaan gak ngapa-ngapain. Demam, Hb turun, napas sesak, pencernaan terganggu, halah, kok lengkap banget ya? Nampaknya si penyakit-penyakit itu sedang kangen berat sama aku, hohoho... -halah-

Akibat mereka yang menyambangiku secara berbarengan ini, jilbabku makin sesak dah -halah, apa hubungannya-, dan terpaksa aku absen dari beberapa agenda yang sudah disusun rapi oleh menejerku -huhuyy, lg kumat *minta digetok palu keknya :p

Wah, capek juga kalo seperti ini terus, malah makin seterez, tiap habis makan juga langsung mules gak ketulungan, pusing, hingga mual. Akibat dari ini semua, aku sampe trauma makan, tapi kalo ngga makan lemes. Akhirnya aku coba iseng bikin agar-agar jelly, yang entah kenapa aku berpikir moga-moga makanan ini bisa mendinginkan perutku yang rewel. Hohoho.. ngasal banget nich, eh tapi beneran manjur dah -apa emang sudah saatnya sembuh ya? huhuyyy :D

Karena sudah lemes banget gak ketulungan, sore ini aku memaksakan diriku untuk melangkah keluar kandang, wuahhh, serasa seabad gak keluar kandang, seger banget dah, jalan aja gak tentu arah, sambil nyari makanan. Bismillah, memaksa diri untuk melahapnya, berharap moga-moga pasca makan tragedi yang sebelumnya selalu terjadi tak terulang.

Taraaaaaaaaaaaaa... pencernaanku sudah mulai membaik. Alhamdulillah... Senang gembira, kembali pecicilan ^o^

 *edisi special, kenarsisan, dan lagi-lagi kumat :p

Sabtu, 09 April 2011

Lukisan Kehidupan

Titik demi titik terus kulukis
Membentuk garis
Garis membentuk lukisan perjalanan
Adakalanya indah, 
Namun adakalanya menyisakan sesuatu yang tidak enak sehingga harus dihapus

Dengan apa aku melukisnya? Pensil? Bolpoin? Spidol? Atau apa?

Tidak semua mudah dihapus begitu saja. Pun ketika aku melukisnya dengan pensil, namun sewaktu melukis, aku lupa, menghujamkan pensil itu terlalu dalam, hingga ketika kertas itu dibalik, akan timbul benjolan. Aku lupa bahwa suatu saat aku melakukan kesalahan, sehingga harus dihapus. Terlanjur aku menghujamnya terlalu dalam, hingga ketika sudah berusaha dihapus dengan bersih, ternyata masih ada bekas. Yang mungkin tak bisa hilang.


"Luka tamparan kamu itu besok juga hilang, tapi HATINYA TIDAK BISA. Meskipun kamu minta maaf, mungkin di depan di maafin karena takut, tapi HATI SANGAT MEMBEKAS LUKANYA. Itu minta amalmu di akhirat, itupun kalau amalnya banyak"
(Ust. Rahmat Abdullah)

Rasanya kata maaf saja tak cukup bagiku untuk menebus semuanya...
ya Rabb, anugerah indah, maka ijinkan aku menjaga anugerah itu hingga Engkau mengumpulkan kami di syurgaMu kelak...

Rabu, 06 April 2011

Cinta untuk Emak dan Bapak, juga Kalian Semua...

Ingin sekali kugoreskan tinta, untuk emak, bapak, kakak, serta orang-orang yang selalu mendukungku di sana, di kampung tercinta, Blora. Apa kabar kalian semua? Rasanya kangen sekali, ingin sekali pulang, memenuhi hak-hak kalian, tapi apalah daya, masih belum memungkinkan.

Di sini aku menahan rindu yang teramat sangat, yang aku berharap Allah menyampaikan salam dan rinduku untuk kalian semua. Saat kutulis coretan singkat ini, air mataku tak henti-hentinya mengalir. Kalian tau kenapa? Rasanya aku sampai tidak mampu berkata-kata lagi.

Dilema... itu yang sering aku rasakan. Terus berusaha berbagi dengan sesama, tanpa melupakan kewajiban utama. Namun seringkali aku lengah, terus menerus berusaha berbuat yang terbaik untuk ummat, namun lupa dengan diri sendiri, juga kalian keluargaku.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS At Tahrim : 6)

Ketika teringat ayat itu, aku selalu menangis, menangis dalam kesunyian, teringat akan dosa sendiri, bahwa aku telah melalaikan keluargaku. Allahummagh firlii... Ya Allah, berilah kesempatan bagiku untuk menunaikan kewajiban ini.

Emak, Bapak, apa kabar engkau di sana? Di sini, di perantauan ini, aku selalu berdoa untuk kalian, hingga terbawa ke dalam mimpi. Aku sering menangis untuk kalian. Namun tangisan saja tidaklah cukup. Aku tau itu, dan di sini aku masih ingin selalu membahagiakan kalian, mewujudkan harapan-harapan kalian, meskipun sebenarnya ada beberapa yang tidak sesuai dengan "keinginan" pribadi. Namun, kembali kurenungi, mencoba mencari setiap serpihan hikmah, mencari celah positif dari setiap hal, aku akan melanjutkan perjuangan itu.

"Bersama kesulitan ada kemudahan, insyaAllah Allah akan kasih kemudahan, jika hambaNya mau berusaha dan terus berdo'a. Yakin.. itu kuncinya. Allah akan beri kemudahan kepada hamba-hambaNya yang menolong agamaNya", begitu kalian selalu menguatkanku.

Emak, Bapak... terimakasih atas kepercayaan penuh-nya. Sungguh beruntung aku, Allah memberiku orang tua seperti kalian, dan di sini aku dipertemukan dengan orang-orang sholih, insyaAllah.. Aku ingin menjadi harta "berharga" untuk kalian.

Luv u Mom, Dad...

*ditulis dengan derai air mata yang tak kunjung berhenti

Selasa, 05 April 2011

Mengumpulkan Kepingan-Kepingan Hikmah

Sesungguhnya Allah SWT telah menaburi kehidupan ini dengan aneka kisah dan hikmah yang mempesona. Hal inilah yang akan mengubah pola berpikir dan bertindak kita lebih baik dan positif. Dan hikmah ini tengah mengiringi langkah perjalanan hidupku.

Setiap muslim akan memasuki surga dengan kendaraan amal-amal kebaikannya”.

Ada banyak kejadian pada diri kita dan sekitar kita yang menyiratkan kepingan-kepingan hikmah. Kepingan hikmah itu berserakan, dan kini kepingan-kepingan itu mulai menampakkan bentuknya. Hikmah itu telah memperlihatkan ayat-ayat Allah yang bertaburan menyertainya. Sungguh janji Allah benar adanya. “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.

Siapa mengira di tengah semua kondisi yang menyulitkan ini (menurut pandanganku) justru mampu membangkitkan kekuatan yang sedemikian luar biasa. Subhanallah, ada banyak kemudahan dan kejutan-kejutan di sana. Seolah Allah selalu menaburkan hikmah dan karuniaNya kepadaku.

Kepingan itu tengah berangkai menjadi kisah hidup yang sejati. Komitmen akan sebuah perjuangan ini hadir. Pertemuanku dengan orang-orang luar biasa mulai melengkapi kisah luar biasa ini. Untuk itu, aku ingin  mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pengorbanan dan keikhlasan kalian semua untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan sesama manusia. Semoga Allah SWT menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih indah dan baik dari sisi-Nya.

Sungguh kepingan ini akan terus berangkai menjadi rangkaian peristiwa kehidupan yang akan saling berhubungan satu sama lain yang terjalin begitu indah dan mulia dalam satu jalinan benang cinta karena Allah SWT semata.

Rabu, 16 Maret 2011

Jangan Pernah Lelah Kawan!

Penolakan, cemooh, cibiran, pujian dan sebagainya mungkin sudah menjadi menu harian bagi seorang da'i. Ketika mendapatkan penolakan, cemooh, cibiran, bahkan mungkin fitnah maka bersabarlah. Fashbir shobron jamiil. Begitulah dakwah. Bahkan orang yang sudah menjadi bagian dari hidup kita bukan tidak mungkin menjadi "penghalang" dari dakwah ini, dakwah kepada keluarga itu termasuk dakwah yang "paling sulit". Ketika nasehat-nasehatmu, sikap-sikapmu dianggap lain oleh mad'u, bersabarlah. Sabar sabar sabar.. senjata ampuh bagi da'i. Ketika mendapat pujian, maka janganlah menjadi riya', pujilah Allah, dan bersyukurlah kepadaNya, karena pada hakekatnya semua itu tidak akan terjadi tanpa kehendak dan kekuatan dariNya. Semoga pujian-pujian itu tidak menjadi "penghancurmu".

“Apakah kalian mengira akan dibiarkan begitu saja, padahal belum terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuan diantara kalian?” (QS At Taubah (9):16)

Ketika Jalan Dakwah adalah sebuah pilihan, maka jangan bertanya kapan pengorbanan akan berakhir. Jalan da'wah itu jauh lebih panjang daripada umur kita. Dan apakah kita siap untuk terus berkorban? Maka persiapkanlah semuanya, sembari terus mohon pertolonganNya. Sepanjang kita ridlo pada jalan dakwah itu maka pengorbanan itu terasa indah dan menyenangkan. Terlibatlah dalam aktivitas dakwah apapun yang bisa kamu lakukan tanpa harus kehilangan status sebagai rakyat biasa, karena dakwah tak mengenal status sosial.

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi. Kemudian baru orang-orang yang lebih rendah derajatnya, berurutan secara bertingkat. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Jika ia kuat dalam agamanya, maka ujiannya sangat berat. Dan jika lemah agamanya, maka ia akan diuji Allah sesuai tingkat ketaatannya pada agamanya. Demikianlah bala’ dan ujian itu senantiasa dilimpahkan kepada seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi tanpa dosa apapun.”(HR. Tirmidzi)

Rabu, 09 Maret 2011

Episode Lari-Lari

Lama nian saya tidak menuangkan ekspresi dalam bentuk tulisan. Biasanya saya menorehkannya di multiply, alias MP. Namun sudah sekitar sebulan ini saya meninggalkannya.

Hari ini, serasa menjadi mahasiswa yang sedang aksi, lari sana lari sini. Mengejar waktu, kejar deadline, sampai-sampai beberapa SMS dan telepon yang masuk terpaksa terabaikan, ataupun telat membalas. Hufft... berlari menyusuri sepanjang jalan Gejayan, ditemani tas kamera warna  hitam (tas pinjeman dan gak ada kameranya), dan sendal kesayangan, sendal gunung, baru loh, biar bisa lari-lari, haha.. *norak*. Kupacu kakiku untuk terus berjalan, setengah berlari, ataupun berlari. Sangat menikmati.. tubuh ini terasa sangat ringan dan tak ada rasa capek sedikitpun. Yang ada dalam pikiran, bahwa saya harus menyelesaikan semuanya sebelum kamis malam.

Namun beberapa planing hari ini berubah. Harapan untuk menghadiri rapat PH Salimah yang sudah sebulan tidak saya hadiri terpaksa hari ini terlewatkan lagi, karena masih harus berkutat dengan design-design amunisi ke Rakornas kemudian  berkencan ria di percetakan.

Pukul 17.30 baru bisa pulang dari kencan. Berlari ke lokasi rapat dengan harapan bisa bertemu dengan ibu-ibu hebat, ternyata sampai di lokasi sepi, gak ada orang. Apakah rapatnya dipindah? Sang partner saya hubungi berkali-kali gak di angkat, di SMS juga tidak berbalas. Hanya bisa berkhusnudzan, mungkin rapat sudah selesai dan masing-masing sedang dalam perjalanan kembali ke istana masing-masing. Dan ternyata benar, hehe...
Berharap semoga lain waktu bisa ikut :D

Apa kabar ibu-ibu semua? Saya sangat merindukan kalian. Sudah sebulan tidak bisa bersua dengan kalian, hanya lewat SMS saja. Eh nggak ding, kemarin ketemu di Merapi. Tapi saya sangat merindukan rapat itu. Hehe...

Pulang dari lokasi rapat, melihat langit Jogja begitu indah. Ingin mengabadikannya dalam sebuah jepretan, namun sayang, kamera masih di toko, hehe... *Ngiler kamera DSLR, semoga segera terwujud, 'aamiin... :D

Ibu-ibu, semester ini adalah semester terakhir saya. Mohon doanya ya ibu-ibu, semoga Bolung nan baik hati dan imut ini *narsis dikit* diberikan kemudahan dan kekuatan serta keistiqomahan untuk menyelesaikan semuanya. Sampai kebawa-bawa mimpi. Hehe... Ingin mencontoh bu Awie yang berhasil menyelesaikan thesisnya di tengah huru hara Merapi. SubhanaLLah... saya diajari untuk "mencuri" waktu dong bu, hehe...

Maaf ibu-ibu, hanya ingin menyampaikan apa-apa yang sedang dirasakan saat ini saja.

Aniway, lari-lari ini membuat BBku  turun gak ya? Moga-moga aja, haha...
*jadi ingat SMS-an saya sama bu Retna sang partner keren :D

Ohya buat mba Nina.. Huaaaa... dikau mau meninggalkan Jogja, hiks hiks hiks... kapan kita kencan nich mbak? Sebelum dirimu pergi :'(

Nobar "Rumah Tanpa Jendela" aja yuuukkk :D

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Terbang bebas, bermain di atas awan...
*Khayalan tingkat tinggi

Sabtu, 05 Maret 2011

Hati yang Selamat

Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., "Manusia manakah yang paling mulia?" Rasulullah saw. menjawab, "Setiap yang bersih hatinya dan benar lisannya." Mereka bertanya, "Kami sudah mengetahui lisan yang benar, lalu apakah hati yang bersih?" Rasulullah menjawab, "Yaitu orang yang bertakwa, yang bersih, yang tidak ada dosa, kezaliman, dendam, dan dengki di dalamnya."
(HR Ibnu Majah). 

Islam menekankan agar seorang muslim memiliki hati yang bersih (salamatus sadr). Yaitu, hati yang di dalamnya tidak ada rasa iri, dengki, dan dendam kepada muslimin lainnya. Hati yang bersih adalah nikmat yang diberikan Allah kepada penduduk surga. Allah SWT berfirman yang artinya, "Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipannya.". (Al-Hijr: 47). Antara penduduk surga yang satu dengan yang lainnya tidak ada rasa dendam dalam hati mereka.

Salamatus sadr juga merupakan akhlak dari orang yang berilmu. Para ulama menyebutkan akhlak orang berilmu itu di antaranya adalah tidak menjilat, tidak mencela, tidak sombong, tidak dengki, tidak iri, tidak dendam, tidak melaknat, dan menjauhkan diri dari berprasangka buruk kepada mukmin lainnya.

Mewujudkan salamatus sadr bukanlah perkara mudah. Hal yang mendukung ini adalah kisah sebagaimana dituturkan Anas bin Malik r.a., "Kami tengah duduk bersama Rasulullah saw. Lalu beliau bersabda, 'Akan muncul di hadapan kalian seorang dari penduduk surga.' Setelah itu muncullah seorang lelaki Anshar sembari merapikan jenggotnya karena habis berwudu, sementara tangan kirinya membawa sandal."

Pada hari berikutnya, sebelum lelaki tersebut datang, Rasulullah bersabda dengan sabda yang serupa. Begitulah yang juga terjadi pada hari yang ketiga. Hal ini membuat Abdullah bin Amr bin Ash r.a. merasa penasaran, apa kiranya yang membuat lelaki tadi selama tiga hari berturut-turut dikatakan Rasulullah saw. sebagai penduduk surga.

Abdullah bin Amr bin Ash kemudian meminta izin kepada lelaki tersebut untuk bermalam di rumahnya selama tiga hari. Beliau ingin melihat apakah yang dikerjakan lelaki tersebut sehingga mendapat predikat penduduk surga. Ia tidak melihat lelaki tersebut bangun malam kecuali apabila ia membalikkan tubuhnya ia berzikir kepada Allah dan bertakbir sampai ia bangun untuk melaksanakan salat fajar. Abdullah r.a. berkata, "Saya tidak pernah mendengar ia berbicara, kecuali yang baik."

Setelah tiga malam berlalu, Abdullah r.a. berkata, wahai hamba Allah .... selama tiga hari berturut-turut saya mendengar Rasullah bersabda tentang dirimu dengan mengatakan, "Akan muncul kepada kalian seorang dari penduduk surga." Karena itu, aku bermalam bersamamu selama tiga hari untuk melihat apa yang engkau lakukan, tetapi aku tidak melihatmu melakukan amal yang banyak, lalu apakah yang engkau lakukan sehingga disebut Rasulullah sebagai penduduk surga? Lelaki itu menjawab, "Tidaklah ia kecuali apa yang engaku lihat." Lalu ketika saya berpaling ia memanggilku, "Tidaklah ia kecuali yang engkau lihat, hanya saja aku tidak mempunyai rasa iri dengki kepada siapa pun dari orang muslim yang mendapatkan kebaikan dari Allah Taala. Abdulah bin Amr bin Ash berkata, "Sifat inilah yang menyampaikanmu kepada kedudukan yang tinggi dan inilah yang sulit dilakukan orang-orang."

Salamatus sadr adalah unsur penting dalam membangun persaudaraan sesama muslim (ukhuwah islamiyah). Dan, inilah yang telah dicontohkan oleh kaum Muhajirin dan Anshar. Sebagaiman Allah berfirman, "Dan mereka (orang-orang anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang Muhajirin)." (Al-Hasyr: 9).

Maksudnya, orang-orang Anshar tidak merasa hasad (dengki) kepada kaum Muhajirin yang mendapatkan keutamaan dari Allah dalam kemuliaan dan kedudukannya dibanding kaum Anshar. (Tafsir Ibnu Katsir 4/304). Wallahu a'lam.

Ikhtiar bersyukur kepada orang tua

 "pekerjaan dakwah itu tidak akan ada habisnya, mbak.. kalo mo ngerjain skripsi dulu bilang aja lho, nanti biar kita kurangi beban2 mb tari" begitu kata bu Dyah, sang ketua Salimah DIY. Maka, seketika itu pula, mataku mbrebes mili.

ya Rabb, aku tau... Perintah bersyukur kepada-Mu itu  diiringi dengan perintah bersyukur kepada orang tua.., menyenangkan hati kedua orang tua (dalam batas tidak dalam rangka maksiyat kepada ALLAH) adalah amal besar yang utama....

Aku perlu bimbingan langsung dari-Mu ya ALLAH, untuk bisa melaksanakannya...

-- ROBBI AWZI'NIY AN ASYKURO... (Al-Ahqof 15).

*berfikir akan resign dari pekerjaan (bukan amanah dakwah lho ya), hehehe...

Selasa, 01 Maret 2011

Kesederhanaan dalam Kemewahan

Kesederhanaan yang membahagiakan...

Sekitar seminggu lebih hidup "mewah". Mewah karena tak biasa, dan mewah tak sembarang mewah, tapi ada alasan yang melingkupinya. Kami harus bekerja keras siang malam, tak jarang pula waktu untuk istirahat kita relakan terenggut, karena agenda yang akan kita lakukan bukanlah agenda kecil, tapi agenda besar untuk peradaban Indonesia. 

Menu makan tidak seperti biasanya, kali ini gizi lebih diperhatikan. Bahkan kami juga "terpaksa" harus menginap di hotel mewah, entah bintang berapa. Yang kutau, hotel itu adalah hotel berkelas di Jogja. 
Dulu saya menganggap, tinggal di hotel mewah hanyalah sebuah mimpi di siang bolong. Tapi Allah berkehendak lain. Saya tinggal disana tanpa keluar uang sepeserpun. Ini membuktikan bahwa, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak. 

Di awal-awal sempat senang, apa-apa dilayani, dan menu makan pun variatif, lumayan untuk perbaikan gizi, pikirku (maklum, orang desa yang tidak punya cukup uang untuk tinggal di hotel mewah). Tidur pun enak, nyaman. Berbagai bayangan yang enak-enak mampir di pikiranku.

Namun, saya hanya merasakan kenikmatan dari semua kondisi itu beberapa saat saja. Bukan masalah pekerjaan yang memang harus dikerjakan dengan konsentrasi penuh dari pagi hingga tengah malam, kejar deadline, dan sebagainya. Sama sekali bukan karena itu. Tapi ada hal lain... Entah kenapa, di tengah semua kemewahan itu saya sangat merindukan kesederhanaan. Pikiran saya melayang-layang, teringat kehidupan rasulullah dan para sahabat, juga kehidupan sebuah keluarga yang akhir-akhir ini mampir di kehidupanku. 

Saya begitu merindukan tempe, begitu merindukan kamar yang sederhana namun nyaman, begitu merindukan kehidupanku yang sederhana. Sampai-sampai, ketika saya menyampaikan apa yang saya rasakan itu, beberapa teman saya tertawa. Mungkin aneh.. tapi saya benar-benar merindukan itu.

Terlepas dari semua kerinduan akan kesederhanaan, saya menemukan banyak pelajaran di dalamnya. salah satunya, tentang latihan untuk menjadi orang "kaya" yang tetap bersahaja

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Aku memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar (Umar bin Khattab)







Bersyukur Atas Ketidaksempurnaan

“Aku bersyukur karena tidak memiliki semua yang kuinginkan, jika aku memiliki semuanya, apalagi yang hendak kucari?”  Seandainya aku memiliki semua yang kuinginkan, maka bisa kubayangkan bahwa hidupku akan hampa, tanpa perjuangan. Betapa hidup itu tidak akan mengajariku apapun. Jadi bersyukurlah atas apa yang tidak kita punyai, karena dengan begitu kita akan berjuang. Sesuatu yang kita dapatkan atas perjuangan sendiri itu akan jauh terasa lebih nikmat wlaupun mungkin hasilnya jauh dari harapan.

“Aku bersyukur saat aku tidak mengetahui sesuatu, karena itu memberi kesempatan kepadaku untuk belajar.” Maka jangan pernah minder ketika kita tidak tahu sesuatu. Cari tahulah, belajarlah, dan jangan pernah ragu untuk bertanya pada orang yang lebih tahu. Janganlah kita membatasi diri dalam belajar. Semua yang ada di dunia ini, semua yang diciptakan Allah penuh pembelajaran. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari orang tua, dari kawan kita, bahkan dari anak kecil, dari bayi, dari hewan yang mungkin bagi kita itu sangat menjijikkan. Jangan pernah merendahkan orang lain. Yakinlah, buka pikiran, open your mind, ambillah yang positif.

“Aku bersyukur atas masa-masa sulit  yang aku hadapi, karena selama itulah aku tumbuh menjadi dewasa.” Jangan terburu-buru terpuruk ketika masa sulit menghampiri.Jadikan masa-masa sulit sebagai media bagi kita untuk membangkitkan energi yang hilang. Ingat… bahwa Allah tidak akan membebani hambaNya di luar batas kemampuannya. Pikirkanlah dengan otak yang dingin dan hati yang tenang. Hati yang tenang itu lebih bisa cepat menyelesaikan permasalahan dari pada hati yang “grusa grusu”. Yakinlah…. Aku sudah membuktikannya! Bersyukurlah karena kita masih diberi kesulitan oleh Allah, karena itu artinya Allah masih sayang kita. Bukankah ujian itu adalah tarbiyah dari Allah? Masa-masa sulit itulah yang juga akan menguji keimanan seorang muslim.

“Bersyukur atas keterbatasan yang aku miliki, karena hal itu memberi aku kesempatan untuk memperbaiki diri.” Aku tidak bisa membayangkan, seandainya hidupku sempurna, bukan kebahagiaan yang aku dapatkan, tapi sangat mungkin aku mendapatkan kehampaan. Menjadikan keterbatasan sebagai peluang. Dari sanalah kita akan terus, dan terus memperbaiki diri. Bersama saudara seperjuangan, saling menasehati, saling mengingatkan atas kealpaan…. Dan jangan sungkan-sungkan untuk minta kritikan dari teman-teman kita, karena dari sinilah kita akan memperbaiki diri. Teman sejati bukanlah teman yang selalu memuji, tapi dia adalah teman yang memuji ketika benar, dan meluruskan ketika kita bengkok. *jadi rindu temen2 LQ*

“Bersyukurlah atas setiap tantangan baru, karena hal itu akan membangun kekuatan dan karakterku” Belajarlan untuk menyukai tantangan, karena dari sanalah kemudian kita dituntut untuk terus belajar belajar, dan terus belajar. Kita di tempa. Bagaimana kita menyikapi tantangan baru tersebut, dari sana akan  terlihat bagaimana seberapa besar kekuatan kita, dan bagaimana karakter kita. Dan sungguh benar, tantangan itu akan semakin menguatkan karakter.

“Bersyukurlah atas ketidaksempurnaan yang kita miliki.” Karena dari sinilah kita akan terus berproses untuk menjadi sempurna. Tataplah ke depan, jangan terpusat pada masalah, fokuslah pada solusi.

Ingatlah kawan, bahwa baik buruk, susah senang, sedih bahagia, semuanya dari Allah. Bukankah tidak ada yang sia-sia dari-Nya? Semuanya penuh hikmah, semuanya penuh pembelajaran. Carilah hikmah dan pembelajaran itu, lalu ambillah. Ucapkan Hamdallah, dan tetaplah tersenyum tuk songsong masa depan yang indah ^^

Jika pun hidup kita berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Yakinlah hari-hari kemudian akan lebih baik dari hari-hari sekarang dan hari-hari yang telah lalu. Berprasangka baiklah Allah SWT akan memberikan karunia dan rahmat yang besar di hari-hari esok, dan JANGAN BERPUTUS ASA!

By : Bocah Ulung

Semoga setiap detik yang kita lewati senantiasa dipenuhi rasa syukur terhadap apa yang telah DIA berikan…

Minggu, 06 Februari 2011

MEMENTO MORI...!!!

Kematian Adjie Massaid memang mengejutkan. Jujur saya sendiri jadi "takut" mati, karena merasa belum punya bekal apa-apa. "Kematian itu pasti, yang penting adalah bekal mati yang harus kita persiapkan", begitu kata om saya.


Masih mengutip kata-kata om saya,
walaupun kita sebenarnya tidak pernah akan siap untuk mati, tapi kita berharap mati dalam keadaan baik/khusnul saja, itu saya kira sudah cukup... sayangnya tidak semudah itu meraih mati yang baik, perlu pembiasaan agar saat maut menjemput bukan hal-hal yang tidak berkenan di mata Allah yang kita ucapkan....artinya simulasi akhlaq kita saat menghadapi maut nanti sangat perlu kita trim/latih/biasakan di saat kita masih hidup. Ini saya temukan sendiri dalam praktik sehari-hari. Contoh: kita bisa menilai akhlaq seorang ibu melahirkan apakah dia akan mati secara baik atau tidak (yah, ini hanya teori saya saja...). Bila dia saat melahirkan meneriakkan kata-kata yang ga senonoh alias semua nama penghuni kebun binatang keluar, yah kita bisa menilai kesehariannya....
Hehe...

Lagi-lagi, pagi-pagi udah diajak dzikrul maut. Semoga postingan sederhana ini mampu memberikan spirit bagi kita untuk selalu berusaha lebih baik.

MEMENTO MORI...!!!

Sabtu, 05 Februari 2011

Kalau Bukan Aku, Siapa Lagi (??!)

Kulihat mereka di sana...

Sejak peristiwa Merapi, kontan hampir semua perhatian, tenaga dan pikirannya tersedot untuk membantu saudara-saudaranya. Apalagi posisi beliau sebagai koordinator tim. Beliau memiliki 4 anak, juga sedang menyelesaikan thesis. Sering diprotes juga oleh anak-anaknya karena terlalu sibuk, tapi beliau berusaha untuk tidak mendzolimi hak-hak anak-anaknya, juga suaminya.

Sempat terlintas di pikiran untuk cuti sejenak dari aktifitas sebagai koordinator Merapi untuk fokus ke thesis. Tapi kemudian teman-teman di sekitarnya sangat memberatkannya. Dipikir berkali-kali akhirnya beliau tetap menunaikan amanah yang telah dipercayakan kepadanya. Dan subhanallah, pertolongan Allah datang, thesis itu dilaluinya begitu mudah.

Saya sering berkoordinasi dengan beliau. Kadang-kadang ada saling mengeluh, juga tak jarang ada amarah karena overload. Saya pernah bertanya kepada beliau, "Kenapa ya saya sering mengeluh dan ngomel-ngomel sendiri?" "ya wajarlah Rie, kalau orang overload, itu manusiawi. Saya juga sering seperti itu. Dijaga amalan yaumiyyah-nya ya, karena itulah satu-satunya senjata yang kita punyai"

Saya jadi berfikir, mungkin saya begini karena amalan yaumiyyah saya buruk. Untuk sholat malam saja sering butuh perjuangan yang sangat keras, tidak seperti dulu yang begitu ringannya kaki ini melangkah. Kenapa saya jadi begini ya? Apakah terlalu banyak maksiat? Kalau terlalu capek sepertinya tidak juga, karena saya masih punya waktu yang longgar. Bisik saya dalam hati.

Satu lagi, seorang yang tidak diragukan kredibilitas dakwahnya, beliau cuti dari aktifitas meskipun teman-teman sekitarnya memberatkannya. Entah apa namanya, laptop beliau dan juga laptop suaminya yang berisi semua data-data termasuk thesis hilang di curi orang.

Sebenarnya tidak hendak membandingkan. Hanya mencoba meneladani mana yang baik dan sesuai kapasitas. Mencoba mengerti dan memahami apa yang terjadi di sekitar.

Ditengah-tengah tanggungan amanah yang ada, kadang suka terlintas dalam hati "Untuk apa aku melakukan semua ini, seperti tak ada untungnya buatku.." Godaan batin yang kadang juga berhasil membuatku gagal untuk melangkah menanggung amanah.


Tiba-tiba ingat seorang saudara yang selalu menguatkanku, Mencoba mengerti dan memahami.

Izinkan aku menangis kembali.

Entah kenapa rasa sayangku padamu semakin menjadi.
Kau benar-benar sudah seperti menjadi bagian dari keluargaku yang jika salah satu diantara mereka tertimpa cobaan dan ujian (baik fisik maupun hati), aku selalu merasakan keberatan yang juga hampir bisa menyamai..

Apalah artinya berbuat baik jika tidak dilandasi dengan niat yang ikhlas...

Itu kata-kata yang pernah dia ucapkan. Allah, sampaikan rasa rinduku kepadanya yang entah dimana.

Masih mengutip nasehat yang pernah dia sampaikan,

"Aku tau niat kamu baik, tapi bukan begini caranya.."

Kata-kata "begini" yang beliau maksud adalah dengan memaksakan usaha yang kita menganggap bahwa kita bisa melakukannya sendiri, padahal sejatinya akan menggerogoti diri kita sendiri, sedangkan masih banyak tuntutan amanah lainnya yang mengantri.

Kata-kata "kalau bukan aku, siapa lagi" juga disesuaikan kemampuan. Beberapa amanah yang mungkin "terpaksa" harus "ditinggalkan", memilih mundur bukan dengan maksud menghindar dari amanah dan tabungan pahala. Tapi karena melihat bahwa masih ada hal lain yang terlihat sederhana namun bisa berpotensi dakwah luar biasa di masa yang akan datang. Juga mempertimbangan beberapa poin yang sekiranya masih bisa diback up orang lain.

Mungkin tak jarang pihak yang memberi amanah menahanmu untuk mundur, mereka menilai bahwa kamu adalah yang termasuk istiqomah dengan amanah itu. Namun  mungkin  kamu bisa memberikan beberapa alasan konkrit juga menjelaskan tentang batas-batas yang bisa  kamu paksakan pada mereka.

Amanah pada ummat memang sebuah tuntutan yang besar.
Namun bukan berarti semuanya harus dicap "kalau bukan aku, siapa lagi."

Mungkin, langkah-langkah yang akan kamu ambil terlihat lebih mementingkan pribadi daripada amanah, tapi justru di sana titik beratnya.
Amanah di masa depan lebih berat dan lebih membutuhkan gelar, begitu juga salah satu nasihat yang diberikan oleh kakak saya.

Dan lagi-lagi sang saudara yang luar biasa itu menyampaikan kalimat pedasnya :

"Ngurusi diri sendiri aja masih keteteran, kok udah (gaya) mikirin orang lain."

Sampai kapan dilema ini akan berakhir, begitu kata Fajar
*Di tengah kelelahan, masih banyak hal yang harus dikejar dan diselesaikan