Total Tayangan Halaman

Rabu, 22 Desember 2010

Bukan Menutup, hanya Menyimpan saja

Sebuah keputusan yang tidak mudah akhirnya diambil juga. Aku berhasil mengalahkan "egoku". Sudah cukup sakit yang kurasakan, tak ingin menambah luka lagi. Jadi lebih baik aku diam, dan pergi. Mulai detik ini, hari ini, aku harus membuka lembaran baru. Bukan melupakan yang lama, hanya ingin fokus dengan apa yang ingin dikejar saja. Berusaha bangkit dan kembali berlari

Aku bosan
Ingin meninggalkan semua ini....
Aku hanya mengharap ridhoMu...

Bismillah..

"Suatu hari nanti saat semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berada di antara mereka, yang bercerita tentang perjuangan yang indah, dimana kita, sang pejuang itu sendiri. Tak pernah kehabisan energi tuk terus bergerak, meski terkadang godaan tuk berhenti atau bahkan berpaling arah begitu menggiurkan."



UJIAN, Antara Kenangan Masa Lalu dan Tatapan Masa Depan

Manusia... Tak sedetikpun waktu kita terlewat dari ujian. Tapi, setiap ujian adalah kesempatan untuk berbuat baik. Bekerjalah dengan kelemahanmu, maka Allah akan menolong dengan kekuatanNya. Berusähalah dengan kehinaanmu, maka Allah akan menolong dengan kemuliaan-Nya.

Ketika berbagai masalah menghimpit, otakku melayang-layang. Semua kenangan perjuangan itu satu persatu hadir. Seolah ingin pergi dari situasi ini, lalu pergi jauh, mencari orang-orang yang ada dalam kenangan-kenangan itu. Tapi, aku kembali berpikir, apa ini bukan pelarian? Tidak, aku tidak ingin menjadi seorang pengecut. Bukan ini yang aku harapkan.

Menangis, hanya itu yang bisa aku lakukan, sembari mengevaluasi diri, terus berusaha membangkitkan semangat yang sudah semakin menipis. Sambil melakukan itu semua, aku berusaha terus memperbaiki diri tanpa harus berhenti bergerak.

Kadang aku berpikir, betapa diri ini sangat manja. Aku terus menghakimi diri sendiri. Ya, menghakimi diriku sendiri, mencoba meng-iqob diri.

Ahhh... Betapa rapuhnya diriku. Lari kesana kemari, menangis, bingung sendiri, berusaha membangkitkan semangat. Ya Rabb... Betapa lemahnya diriku. Aku membutuhkanMu duhai kekasihku..

Ketika aku bercerita tentang kondisi yg sedang kualami, seorang ummahat memberiku nasehat indah...

Jadilah penerang utk orang lain dengan porsinya. Jika memang tidak sanggup menjadi penerang, jangan memaksakan diri hingga membakar diri. Jadilah diri sendiri. Dengan mengikuti kata hati yang baik. Menajamkan hati dengan taqarrub ilaLLah.

Ada masa kita butuh teman, butuh kebersamaan. Ada masa kita perlu menyendiri. Untuk merenung. Membahagiakan diri. Tapi bukan berarti pergi meninggalkan masalah. Karena ketika kembali, toh bertemu dengan masalah itu lagi. Atau bisa jadi malah bertambah masalahnya.
Banyak istighfar...
HasbunaLLah wani'mal wakiil...

Hati dan pikiranku kembali melayang. Jasadku melakukan berbagai aktifitas yang butuh pemikiran berat, namun hatiku melayang entah kemana... Hati dan mata ini masih saja menangis. Hampir 1 bulan lebih aku mengalaminya, rekor sepanjang hidupku.

Kembali berpikir dan terus merenung di setiap detik yang kulewati. Sampai kapan aku seperti ini? Aku malu dengan mereka yang luar biasa, terus bergerak, tidak banyak keluhan. Apa yang aku lakukan ini tidaklah seberapa. Waktuku masih banyak yang kosong. Aku masih sering ongkang-ongkang kaki (menganggur). Sungguh, aku malu. Malu kepadaMu, malu kepada mereka, malu kepada kalian semua.

Dalam diam, aku selalu berpikir. Aku sangat bahagia atas semua yang kualami, saking bahagianya, lagi-lagi aku tak sanggup membendung air mata. Entah sudah berapa puluh liter air mata itu. Air mata kesyukuran, yang aku berharap, kelak akan menjadi salah satu penolongku.

Sepenggal episode kehidupanku yang tidak bernilai apa-apa, ujian-ujian ringan, ada banyak serpihan hikmah di sini. Hikmah itu aku lihat berserakan. Aku akan berusaha mengumpulkannya, tak ingin ada satupun yang terlewat.

Ujian ini tak sekedar mampir. Allah punya skenario yang indah untukku. Ujian ini, akan mengantarkanku pada cita-cita mulia itu. Ujian ini akan menjadi lompatan-lompatan yang dahsyat. Ujian ini... ALLAH... ingin sekali aku di dekap. Di dekap olehMu. Dekap erat aku, jangan pernah lepas lagi... ALLAH, aku meronta dan mengemis. Aku haus ya Rabb...

Kembali aku tersadar. Adakalanya kita mesti belajar mendekap tawa dan duka dengan kadar yang sama mesranya, agar tak ada lagi yang namanya siklus duka lara. Karena yang ada hanyalah syukur tiada tara...

Aku teringat nasehat seorang trainer, Allah tidak menjanjikan langit selau biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar di setiap kehidupan. Tapi Allah berjanji dengan Rahman dan Rahim-Nya akan selalu bersama kita dalam keadaan apapun. Allah akan memberi pelangi di setiap badai. Senyum di setiap air mata, berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap do'a.

Ketika kerja ini tidak dihargai, maka saat ini aku sedang belajar tentang KETULUSAN.
Ketika usaha ini dinilai tidak penting, maka saat ini aku sedang belajar tentang KEIKHLASAN.
Ketika hati ini terluka sangat dalam, maka saat ini aku sedang belajar tentang MEMAAFKAN.
Ketika diri ini harus lelah & kecewa, maka saat ini aku sedang belajar tentang KESUNGGUHAN.
Ketika diri ini merasa sepi & sendiri, maka saat ini aku sedang belajar tentang KETANGGUHAN.

Semangat ini, sekecil apapun harus terus dijaga. Sabar harus terus dipupuk, dan harus selalu tersenyum. Ini semua adalah bagian dari proses belajar di universitas kehidupan.

Perjuangan tak kan usai! Hingga jasad hancur, atau tiang-tiang Al Aqsha tegak menjulang, menopang atapnya menaungi ummat manusia...

Semoga langkah juang kian kokoh, berdiri kian tegak, menerobos medan yang lebih besar...

AKU AKAN TERUS BERTAHAN!!!

Tak bisa dan tak tahan berlama-lama dengan keterpurukan. Langkah baru harus selalu ditapakkan setiap detiknya. Aku berpikir bisa, maka insyaAllah aku BISA!!!

Ar-Ruh Al Jadid, fii jasadil ummah!

Diam dan Pergi, tapi tetap Do'akan

 
Pernah merasa ditinggalkan oleh sahabat yang sekian lama telah menemani perjuangan? Sahabat yang sekian lama akrab, biasa berbagi dalam suka dan duka? Bagaimana perasaan Anda? Kalau ada yang sakit, bukankah itu wajar? Apalagi jika sang sahabat pergi tiba-tiba tanpa memberikan penjelasan yang jelas. Barangkali Anda sering dibuat bingung oleh tingkah sahabat Anda yang tidak biasa itu. Dan tidak jarang akan memunculkan spekulasi-spekulasi yang pada akhirnya hanya akan menyakiti diri sendiri. Ya, saya katakan menyakiti diri sendiri!

Kondisi seperti ini memang sangat tidak nyaman. Tabayyun adalah langkah tepat yang mesti dilakukan. Tapi yang jadi pertanyaannya kemudian, bagaimana kalau upaya kita untuk ber-tabayyun tidak mendapatkan respon? Atau coba kita meminta orang lain, yang dekat dengan sang sahabat untuk melakukan tabayyun. Tapi ketika ternyata hasilnya masih nihil, upaya terakhir yang bisa kita lakukan adalah mendo'akan, serahkan semuanya hanya kepada Allah.

Diam, dan "pergi" meninggalkannya, tapi bukan memutus tali silaturahim. Doakan saja, dan lupakan saja, masih ada banyak hal yang mesti diurus, jangan habiskan energi untuk mengurus sesuatu yang tidak jelas. Yang penting kita sudah berikhtiar untuk menyelesaikannya. Masih ada banyak hal yang mesti kita kerjakan. Menangis juga tidak akan menyelesaikan masalah. Jadi, serahkan saja kepadaNya. Meski berat, tapi bukan berarti tidak bisa.

Barangkali ada salah dengan kita, dan kita harus melakukan evaluasi besar-besaran terhadap diri kita. Saya jadi berpikir, jika fenomena seperti itu menimpa saya, barangkali selama ini kita sudah melupakan Allah. Padahal Allah itu Maha Pencemburu, maka Dia ingin agar kita tidak berlebihan berharap kepada makhluknya. Sebuah petikan taushiyah yang mungkin bisa kita jadikan bahan evaluasi :

"Janganlah memalingkan wajahmu dari perintah Sang Maha Kuasa, agar tak seorangpun memalingkan muka darimu ".
(Sa'di)

"Hati yang kosong dari Allah pasti akan penuh dengan makhluk, sehingga iapun beramal untuk dan karena makhluk. Kemudian tanpa dia sadarai, iapun binasa karena riya'"
(Shaid Al-Khatir, Ibnul Jauzi)

Fashbir shobron jamiil...
"Berikan sabar di atas sabar, maka Allah akan segera datang dengan jalan keluarNya"
(Ust. Rahmat Abdullah)

Suatu saat, sang sahabat pasti akan merindukan masa-masa "indah" bersama

*semoga setiap air mata yang ada, menjadi saksi tersendiri pada hari di mana tidak ada naungan selain atas ijinNya

Sebuah obsesi yang belum terwujud ...

Dahulu, ketika Khalifah Al Makmun membangun perpustakaan Bait Al Hikmah, maka semakin lengkaplah kualitas keilmuan kaum muslimin saat itu. Khalifah pun menjadi orang yang sangat menghargai kedudukan ilmu dalam khazanah keIslaman. Sejenak membayangkan suasana saat itu, barangkali kita akan mendapati bangunan megah nan indah dengan tanam dan pohon yang rindang. Di dalamnya tersimpanlah karya – karya maestro ilmuwan muslim seantero jagad. Setiap harinya banyak pelajar yang keluar masuk untuk “berguru” dengan peninggalan dan karya ulama-ulama besar. Saat itulah menjadi zaman yang takkan pernah dilupakan oleh manusia sampai kapan pun.

Terinspirasi dari sejarah itulah, saya mendeklarasikan diri, ingin menjadi bagian dari manusia yang bekerja untuk mencetak manusia-manusia berjiwa pemimpin. Ruh yang dibangun adalah perjuangan, maka seluruh sisi paradigma dan kinerja saya tidak terlepas dari perjuangan untuk mencerahkan masyarakat ini menjadi umat. Namun, pertanyaannya sudah sejauh mana saya merancang diri untuk menjadi pemimpin yang tangguh di masa depan. Sudah sejauh mana saya mengagendakan pengembangan diri pada tahun, bulan, pekan, dan hari ini. Sejauh mana saya memiliki tradisi membaca dan menulis. Karena sesungguhnya tradisi inilah salah satu faktor penting yang akan mempercepat kedewasaan saya dan ”organisasi” pun akan terbantu dengan ilmu dan tradisi yang kita miliki.

Di sini, saya yang tidak lain juga telah menjadi bagian tak terpisahkan dari cita-cita tersebut, ingin mengawalinya dengan mendirikan sebuah perpustakaan sebagai wadah untuk merealisasikan impian tersebut.

Berawal dari keinginan kecil. Kemudian, terumuskan sebuah “ruang” mungil untuk memulai menata batu bata “rumah kebijaksaaan”. Terkumpullah beberapa buku-buku milik pribadi yang dibeli sedikit demi sedikit dari hasil tabungan pribadi untuk mengisi ruang mungil itu (yang masih menyatu dengan kamar) menjadi Rumah Kebijaksanaan. Ada juga beberapa buku hasil hadiah beberapa sahabat juga karena suatu prestasi tertentu (prestasi apa ya..).

 “Saya perlu nama, untuk rumah ini?” dan terpilihlah nama BAIT AL HIKMAH. Semoga nama ini memberi ruh bagi usaha ini. Pelan, mulai terkumpul buku-buku yang cukup untuk menjadikan ruang ini layak untuk disebut sebagai perpustakaan.

Semoga masih ada kesempatan bagi saya untuk membangun Bait Al Hikmah. Kesempatan untuk andil dalam membangun peradaban Islam.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah mencipta manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al ’Alaq : 1-5)

“Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”
(QS. Al Baqarah : 269)

Obsesi mendirikan perpustakaan sebagai “Wahana referensi khazanah keIslaman dan data dakwah, menjadi bagian dari penumbuhan tradisi membaca dan menulis dikalangan masyarakat”.

Demikian gambaran tentang sebuah gagasan mengawali langkah menuju arah yang lebih baik. Keberadaan perpustakaan ini tidak lain merupakan ikhtiar saya untuk memberikan tawaran atas permasalahan mendasar yang, menurut saya, sejauh ini belum terpecahkan. Semoga kerja kecil ini dinilaiNya sebagai sebuah amal karena usaha dan kemanfaatannya bagi umat.

Wallahu a'lam bis showab