Kesederhanaan yang membahagiakan...
Sekitar seminggu lebih hidup "mewah". Mewah karena tak biasa, dan mewah tak sembarang mewah, tapi ada alasan yang melingkupinya. Kami harus bekerja keras siang malam, tak jarang pula waktu untuk istirahat kita relakan terenggut, karena agenda yang akan kita lakukan bukanlah agenda kecil, tapi agenda besar untuk peradaban Indonesia.
Menu makan tidak seperti biasanya, kali ini gizi lebih diperhatikan. Bahkan kami juga "terpaksa" harus menginap di hotel mewah, entah bintang berapa. Yang kutau, hotel itu adalah hotel berkelas di Jogja.
Dulu saya menganggap, tinggal di hotel mewah hanyalah sebuah mimpi di siang bolong. Tapi Allah berkehendak lain. Saya tinggal disana tanpa keluar uang sepeserpun. Ini membuktikan bahwa, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.
Di awal-awal sempat senang, apa-apa dilayani, dan menu makan pun variatif, lumayan untuk perbaikan gizi, pikirku (maklum, orang desa yang tidak punya cukup uang untuk tinggal di hotel mewah). Tidur pun enak, nyaman. Berbagai bayangan yang enak-enak mampir di pikiranku.
Namun, saya hanya merasakan kenikmatan dari semua kondisi itu beberapa saat saja. Bukan masalah pekerjaan yang memang harus dikerjakan dengan konsentrasi penuh dari pagi hingga tengah malam, kejar deadline, dan sebagainya. Sama sekali bukan karena itu. Tapi ada hal lain... Entah kenapa, di tengah semua kemewahan itu saya sangat merindukan kesederhanaan. Pikiran saya melayang-layang, teringat kehidupan rasulullah dan para sahabat, juga kehidupan sebuah keluarga yang akhir-akhir ini mampir di kehidupanku.
Saya begitu merindukan tempe, begitu merindukan kamar yang sederhana namun nyaman, begitu merindukan kehidupanku yang sederhana. Sampai-sampai, ketika saya menyampaikan apa yang saya rasakan itu, beberapa teman saya tertawa. Mungkin aneh.. tapi saya benar-benar merindukan itu.
Terlepas dari semua kerinduan akan kesederhanaan, saya menemukan banyak pelajaran di dalamnya. salah satunya, tentang latihan untuk menjadi orang "kaya" yang tetap bersahaja
Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Aku memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar (Umar bin Khattab)
