Total Tayangan Halaman

Selasa, 28 Desember 2010

Masih Ada Nafas Untukku

Beberapa waktu menyempatkan waktu sejenak untuk menunaikan hak keluarga, sejenak meninggalkan Jogja dengan berbagai amanah dan “kepenatan”, merefresh hati, otak, juga jasad. Tak ada rencana sebelumnya, mendadak saja. Keinginan begitu kuat, hingga akhirnya saya nekat menghubungi beberapa orang untuk meminta ijin rehat sejenak dari berbagai aktifitas dan amanah. Sempat menunggu beberapa saat, namun Alhamdulillah, saya berhasil mengantongi surat ijin tersebut. Setidaknya, saya bisa meninggalkan Jogja dengan perasaan lega.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam, akhirnya sampai rumah kakak. Banyak yang berubah. Empat ponakanku menyambut dengan riang, 3 bulan tidak bertemu, mereka sudah banyak perkembangan. Nayla sudah semakin dewasa, lebih dewasa dari umurnya. Fatih, ternyata belum begitu berubah, seneng banget godain ammahnya, paling doyan nonton film, bahkan detail film sang murabbi dia juga hafal. Qiyya, agak kurusan, tapi masih belum berubah juga, paling doyan makan. Najla, dulu dia agak susah kalau saya ajak, tapi kali ini dia selalu mendekatiku, bobo di sampingku, yang masih terngiang-ngiang, kala dia nyanyi Sepohon Kayu dengan suara yang masih putus nyambung karena memang belum bisa bicara secara sempurna.
Dua malam satu setengah hari di rumah kakak. Lebih banyak merenung dan menangis (sambil melakukan berbagai aktifitas rumah tangga, tentunya menangisnya di kala sepi). Ternyata hati dan pikiranku masih melayang-layang memikirkan semua yang di Jogja, meski jasadku ada di kampong. Bagaimana tidak, di Jogja saudara-saudaraku masih kalang kabut mengurus ummat, sementara saya di kampong berkutat dengan masalah “pribadi”. Betapa sulitnya mengalahkan ego. Perang terus berkecamuk, upaya perdamaian masih terus dan selalu diusahakan. Sigh…
Berbicara dari hati ke hati dengan sang kakak, rasanya sudah lama tidak saya lakukan. Biasanya hanya lewat sms, bahkan akhir-akhir ini hamper tidak pernah, masing-masing sibuk dengan aktifitasnya. Mencoba memahami sang kakak, 4 anak yang masih kecil, dengan segudang aktifitas keummatan lainnya, tanpa khadimat. Tapi sangat salut, karena beliau masih perhatian pada adik satu-satunya yang bandel ini. Setidaknya sedikit lega, saya telah mencurahkan apa yang saya rasakan kepada kakak, dan setidaknya ada sedikit energy baru merasuk.
Sore setelah menyelesaikan beberapa amanah yang harus segera di email ke partner yang ada di Jogja, saya meluncur pulang ke rumah orang tua. Betapa kagetnya mereka, tidak seperti biasanya. Mereka nampak sangat bahagia dengan kejutan kepulangan saya, hingga saya sempat tak bisa membendung air mata. Subhanallah, akhirnya Engkau pertemukan kami ya Rabb, baru 3 bulan tidak bertemu dan tidak bisa mendengar suara orang tua (karena sang orang tua sudah tidak mau memegang hape sendiri), cium tangan, cipika cipiki, hehe…
Sejenak menunaikan perintah ibu, mengantarkan sesuatu ke tetangga depan rumah. Ahaaa… kata mereka, saya makin kurus (padahal sepertinya masih seperti yang dulu, ndut). Malam hari ada acara di rumah, namun badan ini rasanya sudah sangat lemah, tidak ada tenaga. Akhirnya saya terlelap paling awal. Tidak sempat ngobrol banyak dengan orang tua, apalagi pagi-pagi saya harus meluncur kembali ke rumah kakak untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Jogja. Meski sangat singkat, namun perjumpaan dengan orang tua kali ini sangat berkesan, entah karena apa. Mungkin juga didukung kondisi hati dan pikiran yang memang sedang sangat membutuhkan perjumpaan dengan orang tua.
Akhirnya meninggalkan rumah lagi, kali ini tanpa di antar sang ayah, karena saya membawa motor kakak. Sepanjang perjalanan masih melayang-layang, hingga di jalan hamper kecelakaan. Bukan karena saya yang salah, tapi ada pemuda dari belakang yang dengan “sok-sokan” ngebut, nyelip seenaknya senndiri. Astaghfirullah, kaget bukan main, sampai gemeteran. Namun saya tidak berhenti, perjalanan tetap dilanjutkan tapi dengan kecepatan pelan. Kalau biasanya saya bisa sampai 100 km/jam, kali ini 60km/jam saja rasanya sudah sangat cepat. Alhamdulillah ya Allah, Engkau masih memberiku kesempatan untuk bernafas, menyelesaikan misi-misi yang Engkau berikan.
Sampai rumah kakak telat 10 menit, rumah sepi, hanya ada beberapa pak tukang yang sedang bekerja. Sambil menunggu, saya selesaikan beberapa pekerjaan di rumah. Alhamdulillah kakak ipar dating. Pas, selesai semuanya. Saya minta tolong kakak ipar untuk mengantarkan saya ke terminal.
Dalam mobil, ada pembicaraan serius, hingga lagi-lagi hampir tak kuasa membendung air mata. Pesan-pesan luar biasa yang sbenernya selama ini saya sadar akan hal itu, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda, saya merasa ditohok.
Ahhh… selamat tinggal “keterpurukan”, perjuangan harus terus dilakukan. Ikhtiar untuk menuntaskan amanah keluarga harus terus dilakukan, ikhtiar untuk hidup mandiri harus terus dilakukan, bahkan harus lebih keras lagi. Ikhtiar untuk menunaikan amanah ummat harus terus dilakukan.
Baru sepekan saya kembali ke aktifitas semula di jogja, malam sepulang dari rapat tim merapi, sakit kembali menyerang, hampir sepekan saya tidak bisa melakukan apa-apa, berbagai aktifitas saya lakukan di atas pembaringan. Kali ini, di puncak kritis, saya merasa kematian sudah di depan mata. masyaAllah…
Beberapa orang yang saya beritau tentang kondisi saya, sepertinya menganggap sakit ini biasa dan terlalu dibuat-buat. Anak-anak kost lainnya pulang, akhirnya saya hanya bisa pasrah atas kehendakNya, sempat ada keinginan opname saja di RS, karena disana aka nada yang merawat, minimal perawat. Hanya bisa pasrah, tapi masih berharap Allah berbaik hati memberi saya nafas untuk menyelesaikan hutang-hutang terhadap sesama manusia juga kepadaNya. Alhamdulillah, Allah mengirimkan sahabat lama saya, hingga akhirnya saya mengungsi ke rumah beliau, bertemu mama, dan disana ada yang merawat. Syukur tak terhingga atas nikmatNya.
Fabiayyi ‘aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan…