Total Tayangan Halaman

Sabtu, 09 April 2011

Lukisan Kehidupan

Titik demi titik terus kulukis
Membentuk garis
Garis membentuk lukisan perjalanan
Adakalanya indah, 
Namun adakalanya menyisakan sesuatu yang tidak enak sehingga harus dihapus

Dengan apa aku melukisnya? Pensil? Bolpoin? Spidol? Atau apa?

Tidak semua mudah dihapus begitu saja. Pun ketika aku melukisnya dengan pensil, namun sewaktu melukis, aku lupa, menghujamkan pensil itu terlalu dalam, hingga ketika kertas itu dibalik, akan timbul benjolan. Aku lupa bahwa suatu saat aku melakukan kesalahan, sehingga harus dihapus. Terlanjur aku menghujamnya terlalu dalam, hingga ketika sudah berusaha dihapus dengan bersih, ternyata masih ada bekas. Yang mungkin tak bisa hilang.


"Luka tamparan kamu itu besok juga hilang, tapi HATINYA TIDAK BISA. Meskipun kamu minta maaf, mungkin di depan di maafin karena takut, tapi HATI SANGAT MEMBEKAS LUKANYA. Itu minta amalmu di akhirat, itupun kalau amalnya banyak"
(Ust. Rahmat Abdullah)

Rasanya kata maaf saja tak cukup bagiku untuk menebus semuanya...
ya Rabb, anugerah indah, maka ijinkan aku menjaga anugerah itu hingga Engkau mengumpulkan kami di syurgaMu kelak...

Rabu, 06 April 2011

Cinta untuk Emak dan Bapak, juga Kalian Semua...

Ingin sekali kugoreskan tinta, untuk emak, bapak, kakak, serta orang-orang yang selalu mendukungku di sana, di kampung tercinta, Blora. Apa kabar kalian semua? Rasanya kangen sekali, ingin sekali pulang, memenuhi hak-hak kalian, tapi apalah daya, masih belum memungkinkan.

Di sini aku menahan rindu yang teramat sangat, yang aku berharap Allah menyampaikan salam dan rinduku untuk kalian semua. Saat kutulis coretan singkat ini, air mataku tak henti-hentinya mengalir. Kalian tau kenapa? Rasanya aku sampai tidak mampu berkata-kata lagi.

Dilema... itu yang sering aku rasakan. Terus berusaha berbagi dengan sesama, tanpa melupakan kewajiban utama. Namun seringkali aku lengah, terus menerus berusaha berbuat yang terbaik untuk ummat, namun lupa dengan diri sendiri, juga kalian keluargaku.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS At Tahrim : 6)

Ketika teringat ayat itu, aku selalu menangis, menangis dalam kesunyian, teringat akan dosa sendiri, bahwa aku telah melalaikan keluargaku. Allahummagh firlii... Ya Allah, berilah kesempatan bagiku untuk menunaikan kewajiban ini.

Emak, Bapak, apa kabar engkau di sana? Di sini, di perantauan ini, aku selalu berdoa untuk kalian, hingga terbawa ke dalam mimpi. Aku sering menangis untuk kalian. Namun tangisan saja tidaklah cukup. Aku tau itu, dan di sini aku masih ingin selalu membahagiakan kalian, mewujudkan harapan-harapan kalian, meskipun sebenarnya ada beberapa yang tidak sesuai dengan "keinginan" pribadi. Namun, kembali kurenungi, mencoba mencari setiap serpihan hikmah, mencari celah positif dari setiap hal, aku akan melanjutkan perjuangan itu.

"Bersama kesulitan ada kemudahan, insyaAllah Allah akan kasih kemudahan, jika hambaNya mau berusaha dan terus berdo'a. Yakin.. itu kuncinya. Allah akan beri kemudahan kepada hamba-hambaNya yang menolong agamaNya", begitu kalian selalu menguatkanku.

Emak, Bapak... terimakasih atas kepercayaan penuh-nya. Sungguh beruntung aku, Allah memberiku orang tua seperti kalian, dan di sini aku dipertemukan dengan orang-orang sholih, insyaAllah.. Aku ingin menjadi harta "berharga" untuk kalian.

Luv u Mom, Dad...

*ditulis dengan derai air mata yang tak kunjung berhenti

Selasa, 05 April 2011

Mengumpulkan Kepingan-Kepingan Hikmah

Sesungguhnya Allah SWT telah menaburi kehidupan ini dengan aneka kisah dan hikmah yang mempesona. Hal inilah yang akan mengubah pola berpikir dan bertindak kita lebih baik dan positif. Dan hikmah ini tengah mengiringi langkah perjalanan hidupku.

Setiap muslim akan memasuki surga dengan kendaraan amal-amal kebaikannya”.

Ada banyak kejadian pada diri kita dan sekitar kita yang menyiratkan kepingan-kepingan hikmah. Kepingan hikmah itu berserakan, dan kini kepingan-kepingan itu mulai menampakkan bentuknya. Hikmah itu telah memperlihatkan ayat-ayat Allah yang bertaburan menyertainya. Sungguh janji Allah benar adanya. “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.

Siapa mengira di tengah semua kondisi yang menyulitkan ini (menurut pandanganku) justru mampu membangkitkan kekuatan yang sedemikian luar biasa. Subhanallah, ada banyak kemudahan dan kejutan-kejutan di sana. Seolah Allah selalu menaburkan hikmah dan karuniaNya kepadaku.

Kepingan itu tengah berangkai menjadi kisah hidup yang sejati. Komitmen akan sebuah perjuangan ini hadir. Pertemuanku dengan orang-orang luar biasa mulai melengkapi kisah luar biasa ini. Untuk itu, aku ingin  mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pengorbanan dan keikhlasan kalian semua untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan sesama manusia. Semoga Allah SWT menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih indah dan baik dari sisi-Nya.

Sungguh kepingan ini akan terus berangkai menjadi rangkaian peristiwa kehidupan yang akan saling berhubungan satu sama lain yang terjalin begitu indah dan mulia dalam satu jalinan benang cinta karena Allah SWT semata.

Rabu, 16 Maret 2011

Jangan Pernah Lelah Kawan!

Penolakan, cemooh, cibiran, pujian dan sebagainya mungkin sudah menjadi menu harian bagi seorang da'i. Ketika mendapatkan penolakan, cemooh, cibiran, bahkan mungkin fitnah maka bersabarlah. Fashbir shobron jamiil. Begitulah dakwah. Bahkan orang yang sudah menjadi bagian dari hidup kita bukan tidak mungkin menjadi "penghalang" dari dakwah ini, dakwah kepada keluarga itu termasuk dakwah yang "paling sulit". Ketika nasehat-nasehatmu, sikap-sikapmu dianggap lain oleh mad'u, bersabarlah. Sabar sabar sabar.. senjata ampuh bagi da'i. Ketika mendapat pujian, maka janganlah menjadi riya', pujilah Allah, dan bersyukurlah kepadaNya, karena pada hakekatnya semua itu tidak akan terjadi tanpa kehendak dan kekuatan dariNya. Semoga pujian-pujian itu tidak menjadi "penghancurmu".

“Apakah kalian mengira akan dibiarkan begitu saja, padahal belum terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuan diantara kalian?” (QS At Taubah (9):16)

Ketika Jalan Dakwah adalah sebuah pilihan, maka jangan bertanya kapan pengorbanan akan berakhir. Jalan da'wah itu jauh lebih panjang daripada umur kita. Dan apakah kita siap untuk terus berkorban? Maka persiapkanlah semuanya, sembari terus mohon pertolonganNya. Sepanjang kita ridlo pada jalan dakwah itu maka pengorbanan itu terasa indah dan menyenangkan. Terlibatlah dalam aktivitas dakwah apapun yang bisa kamu lakukan tanpa harus kehilangan status sebagai rakyat biasa, karena dakwah tak mengenal status sosial.

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi. Kemudian baru orang-orang yang lebih rendah derajatnya, berurutan secara bertingkat. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Jika ia kuat dalam agamanya, maka ujiannya sangat berat. Dan jika lemah agamanya, maka ia akan diuji Allah sesuai tingkat ketaatannya pada agamanya. Demikianlah bala’ dan ujian itu senantiasa dilimpahkan kepada seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi tanpa dosa apapun.”(HR. Tirmidzi)

Rabu, 09 Maret 2011

Episode Lari-Lari

Lama nian saya tidak menuangkan ekspresi dalam bentuk tulisan. Biasanya saya menorehkannya di multiply, alias MP. Namun sudah sekitar sebulan ini saya meninggalkannya.

Hari ini, serasa menjadi mahasiswa yang sedang aksi, lari sana lari sini. Mengejar waktu, kejar deadline, sampai-sampai beberapa SMS dan telepon yang masuk terpaksa terabaikan, ataupun telat membalas. Hufft... berlari menyusuri sepanjang jalan Gejayan, ditemani tas kamera warna  hitam (tas pinjeman dan gak ada kameranya), dan sendal kesayangan, sendal gunung, baru loh, biar bisa lari-lari, haha.. *norak*. Kupacu kakiku untuk terus berjalan, setengah berlari, ataupun berlari. Sangat menikmati.. tubuh ini terasa sangat ringan dan tak ada rasa capek sedikitpun. Yang ada dalam pikiran, bahwa saya harus menyelesaikan semuanya sebelum kamis malam.

Namun beberapa planing hari ini berubah. Harapan untuk menghadiri rapat PH Salimah yang sudah sebulan tidak saya hadiri terpaksa hari ini terlewatkan lagi, karena masih harus berkutat dengan design-design amunisi ke Rakornas kemudian  berkencan ria di percetakan.

Pukul 17.30 baru bisa pulang dari kencan. Berlari ke lokasi rapat dengan harapan bisa bertemu dengan ibu-ibu hebat, ternyata sampai di lokasi sepi, gak ada orang. Apakah rapatnya dipindah? Sang partner saya hubungi berkali-kali gak di angkat, di SMS juga tidak berbalas. Hanya bisa berkhusnudzan, mungkin rapat sudah selesai dan masing-masing sedang dalam perjalanan kembali ke istana masing-masing. Dan ternyata benar, hehe...
Berharap semoga lain waktu bisa ikut :D

Apa kabar ibu-ibu semua? Saya sangat merindukan kalian. Sudah sebulan tidak bisa bersua dengan kalian, hanya lewat SMS saja. Eh nggak ding, kemarin ketemu di Merapi. Tapi saya sangat merindukan rapat itu. Hehe...

Pulang dari lokasi rapat, melihat langit Jogja begitu indah. Ingin mengabadikannya dalam sebuah jepretan, namun sayang, kamera masih di toko, hehe... *Ngiler kamera DSLR, semoga segera terwujud, 'aamiin... :D

Ibu-ibu, semester ini adalah semester terakhir saya. Mohon doanya ya ibu-ibu, semoga Bolung nan baik hati dan imut ini *narsis dikit* diberikan kemudahan dan kekuatan serta keistiqomahan untuk menyelesaikan semuanya. Sampai kebawa-bawa mimpi. Hehe... Ingin mencontoh bu Awie yang berhasil menyelesaikan thesisnya di tengah huru hara Merapi. SubhanaLLah... saya diajari untuk "mencuri" waktu dong bu, hehe...

Maaf ibu-ibu, hanya ingin menyampaikan apa-apa yang sedang dirasakan saat ini saja.

Aniway, lari-lari ini membuat BBku  turun gak ya? Moga-moga aja, haha...
*jadi ingat SMS-an saya sama bu Retna sang partner keren :D

Ohya buat mba Nina.. Huaaaa... dikau mau meninggalkan Jogja, hiks hiks hiks... kapan kita kencan nich mbak? Sebelum dirimu pergi :'(

Nobar "Rumah Tanpa Jendela" aja yuuukkk :D

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Terbang bebas, bermain di atas awan...
*Khayalan tingkat tinggi

Sabtu, 05 Maret 2011

Hati yang Selamat

Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., "Manusia manakah yang paling mulia?" Rasulullah saw. menjawab, "Setiap yang bersih hatinya dan benar lisannya." Mereka bertanya, "Kami sudah mengetahui lisan yang benar, lalu apakah hati yang bersih?" Rasulullah menjawab, "Yaitu orang yang bertakwa, yang bersih, yang tidak ada dosa, kezaliman, dendam, dan dengki di dalamnya."
(HR Ibnu Majah). 

Islam menekankan agar seorang muslim memiliki hati yang bersih (salamatus sadr). Yaitu, hati yang di dalamnya tidak ada rasa iri, dengki, dan dendam kepada muslimin lainnya. Hati yang bersih adalah nikmat yang diberikan Allah kepada penduduk surga. Allah SWT berfirman yang artinya, "Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipannya.". (Al-Hijr: 47). Antara penduduk surga yang satu dengan yang lainnya tidak ada rasa dendam dalam hati mereka.

Salamatus sadr juga merupakan akhlak dari orang yang berilmu. Para ulama menyebutkan akhlak orang berilmu itu di antaranya adalah tidak menjilat, tidak mencela, tidak sombong, tidak dengki, tidak iri, tidak dendam, tidak melaknat, dan menjauhkan diri dari berprasangka buruk kepada mukmin lainnya.

Mewujudkan salamatus sadr bukanlah perkara mudah. Hal yang mendukung ini adalah kisah sebagaimana dituturkan Anas bin Malik r.a., "Kami tengah duduk bersama Rasulullah saw. Lalu beliau bersabda, 'Akan muncul di hadapan kalian seorang dari penduduk surga.' Setelah itu muncullah seorang lelaki Anshar sembari merapikan jenggotnya karena habis berwudu, sementara tangan kirinya membawa sandal."

Pada hari berikutnya, sebelum lelaki tersebut datang, Rasulullah bersabda dengan sabda yang serupa. Begitulah yang juga terjadi pada hari yang ketiga. Hal ini membuat Abdullah bin Amr bin Ash r.a. merasa penasaran, apa kiranya yang membuat lelaki tadi selama tiga hari berturut-turut dikatakan Rasulullah saw. sebagai penduduk surga.

Abdullah bin Amr bin Ash kemudian meminta izin kepada lelaki tersebut untuk bermalam di rumahnya selama tiga hari. Beliau ingin melihat apakah yang dikerjakan lelaki tersebut sehingga mendapat predikat penduduk surga. Ia tidak melihat lelaki tersebut bangun malam kecuali apabila ia membalikkan tubuhnya ia berzikir kepada Allah dan bertakbir sampai ia bangun untuk melaksanakan salat fajar. Abdullah r.a. berkata, "Saya tidak pernah mendengar ia berbicara, kecuali yang baik."

Setelah tiga malam berlalu, Abdullah r.a. berkata, wahai hamba Allah .... selama tiga hari berturut-turut saya mendengar Rasullah bersabda tentang dirimu dengan mengatakan, "Akan muncul kepada kalian seorang dari penduduk surga." Karena itu, aku bermalam bersamamu selama tiga hari untuk melihat apa yang engkau lakukan, tetapi aku tidak melihatmu melakukan amal yang banyak, lalu apakah yang engkau lakukan sehingga disebut Rasulullah sebagai penduduk surga? Lelaki itu menjawab, "Tidaklah ia kecuali apa yang engaku lihat." Lalu ketika saya berpaling ia memanggilku, "Tidaklah ia kecuali yang engkau lihat, hanya saja aku tidak mempunyai rasa iri dengki kepada siapa pun dari orang muslim yang mendapatkan kebaikan dari Allah Taala. Abdulah bin Amr bin Ash berkata, "Sifat inilah yang menyampaikanmu kepada kedudukan yang tinggi dan inilah yang sulit dilakukan orang-orang."

Salamatus sadr adalah unsur penting dalam membangun persaudaraan sesama muslim (ukhuwah islamiyah). Dan, inilah yang telah dicontohkan oleh kaum Muhajirin dan Anshar. Sebagaiman Allah berfirman, "Dan mereka (orang-orang anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang Muhajirin)." (Al-Hasyr: 9).

Maksudnya, orang-orang Anshar tidak merasa hasad (dengki) kepada kaum Muhajirin yang mendapatkan keutamaan dari Allah dalam kemuliaan dan kedudukannya dibanding kaum Anshar. (Tafsir Ibnu Katsir 4/304). Wallahu a'lam.

Ikhtiar bersyukur kepada orang tua

 "pekerjaan dakwah itu tidak akan ada habisnya, mbak.. kalo mo ngerjain skripsi dulu bilang aja lho, nanti biar kita kurangi beban2 mb tari" begitu kata bu Dyah, sang ketua Salimah DIY. Maka, seketika itu pula, mataku mbrebes mili.

ya Rabb, aku tau... Perintah bersyukur kepada-Mu itu  diiringi dengan perintah bersyukur kepada orang tua.., menyenangkan hati kedua orang tua (dalam batas tidak dalam rangka maksiyat kepada ALLAH) adalah amal besar yang utama....

Aku perlu bimbingan langsung dari-Mu ya ALLAH, untuk bisa melaksanakannya...

-- ROBBI AWZI'NIY AN ASYKURO... (Al-Ahqof 15).

*berfikir akan resign dari pekerjaan (bukan amanah dakwah lho ya), hehehe...